Connect with us

POLITIK

Pakta Pertahanan Makkah Dinilai Jadi Sinyal Baru Keamanan Timur Tengah

Published

on

Kitasulsel–JAKARTA — Kesepakatan pertahanan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan yang dikenal sebagai Pakta Pertahanan Makkah dinilai mencerminkan perubahan cara pandang negara-negara kawasan dalam membangun sistem keamanan regional.

Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, mengatakan kesepakatan tersebut tidak tepat jika semata-mata dimaknai sebagai langkah untuk menghadapi Iran.

Menurutnya, pakta tersebut lebih menunjukkan munculnya kesadaran bahwa negara-negara di kawasan perlu memiliki peran lebih besar dalam menentukan arah keamanan wilayahnya sendiri.

“Pakta Makkah tidak harus dibaca sebagai deklarasi perang terhadap Iran, dan juga bukan terbentuknya aliansi militer yang solid, melainkan munculnya kesadaran baru bahwa keamanan kawasan pada akhirnya harus semakin banyak ditentukan oleh negara-negara kawasan sendiri,” ujar Darmansjah dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

BACA JUGA  PKB Tanggapi Safari Politik Jokowi: Rakyat Lebih Membutuhkan "Safari Kesejahteraan"

Ketergantungan pada AS Mulai Bergeser

Darmansjah melihat kesepakatan tersebut juga dapat menjadi indikasi berkurangnya ketergantungan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan terhadap Amerika Serikat dalam urusan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Ia menilai negara-negara tersebut mulai berupaya membangun kapasitas pertahanan secara lebih mandiri melalui kerja sama regional.

“Hal itu menunjukkan mulai bergesernya arsitektur keamanan Timur Tengah dari ketergantungan pada AS menuju upaya membangun kapasitas pertahanan regional sendiri,” katanya.

Menurut Darmansjah, keputusan Arab Saudi bergabung dalam pakta tersebut tidak terlepas dari pengalaman menghadapi dinamika keamanan kawasan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk ketegangan dan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Sementara bagi Turki, kesepakatan tersebut dinilai memiliki sejumlah kepentingan strategis. Selain memperkuat pengaruh Ankara di kawasan, kerja sama itu juga membuka peluang peningkatan akses terhadap pasar pertahanan serta memperbesar ruang Turki dalam menentukan tatanan keamanan Timur Tengah.

BACA JUGA  Pasangan Munafri – Aliaf Unggul Hasil Quick Count di Pilwali Malassar, Seto – Rezki Sampaikan Selamat

Adapun Pakistan memiliki kepentingan tersendiri karena hubungan strategis yang telah lama terjalin dengan Arab Saudi.

Konflik Iran Jadi Pelajaran

Darmansjah menilai dinamika konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut memberikan pelajaran bagi negara-negara kawasan mengenai pentingnya memperkuat kemampuan pertahanan sendiri.

Menurut dia, superioritas militer Amerika Serikat tidak serta-merta membuat negara-negara Teluk terbebas dari ancaman keamanan.

Serangan Iran dalam beberapa waktu terakhir, lanjutnya, juga disebut berdampak terhadap persediaan sistem pertahanan udara sejumlah negara Teluk. Situasi tersebut memperlihatkan masih adanya kesenjangan kemampuan pertahanan yang perlu diperkuat.

Karena itu, kerja sama pertahanan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan dinilai dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan kolektif menghadapi berbagai potensi ancaman.

BACA JUGA  Tahun 2025, Appi: Momentum Perubahan

Ditandatangani 7 Agustus 2026

Turki, Arab Saudi, dan Pakistan sebelumnya resmi menandatangani perjanjian pertahanan bersama pada 7 Agustus 2026.

Pakta tersebut disepakati dalam pertemuan puncak yang berlangsung di Istana Al-Safa, Arab Saudi.

Penandatanganan dilakukan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Kesepakatan itu kemudian menjadi salah satu perkembangan penting dalam dinamika geopolitik Timur Tengah, khususnya terkait upaya negara-negara kawasan memperkuat kerja sama pertahanan dan mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan eksternal.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending