Connect with us

Entertainment

Hari Hiu Paus : Raksasa Laut yang Bisa Tumbuh 18 Meter , Tapi Justru Terancam Punah

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Namanya memang hiu. Tubuhnya juga bisa tumbuh hingga sekitar 18 meter dengan bobot mencapai belasan ton. Namun jangan salah, raksasa laut ini justru dikenal relatif jinak dan bukan pemangsa manusia.

Hari ini, 30 Agustus 2026, menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat hiu paus (Rhincodon typus), ikan terbesar di dunia yang keberadaannya juga tercatat di sejumlah perairan Indonesia.

Di balik ukurannya yang luar biasa, hiu paus ternyata memiliki pola makan yang jauh berbeda dari gambaran hiu pemangsa yang selama ini dikenal.

Hiu Terbesar, Tapi Bukan Pemburu Manusia

Hiu paus merupakan ikan terbesar yang masih hidup di dunia. Ukurannya dapat mencapai sekitar 14 hingga 18 meter.

Meski memiliki ribuan gigi kecil, gigi tersebut bukan digunakan untuk menyerang manusia.

BACA JUGA  Nadin Amizah Launching Album Baru, “Laika, Yang Ditinggalkan” Bicara Soal Luka dan Kesepian

Hiu paus justru termasuk filter feeder. Satwa ini menyaring air laut untuk mendapatkan makanan seperti plankton, telur ikan, ikan kecil dan organisme laut lainnya.

Itulah yang membuat raksasa ini berbeda. Tubuhnya memang sangat besar, tetapi makanan utamanya justru berukuran kecil.

Indonesia Jadi Salah Satu Habitatnya

Keberadaan hiu paus juga ditemukan di perairan Indonesia.

Beberapa wilayah yang dikenal menjadi lokasi kemunculan hiu paus antara lain Teluk Cenderawasih, Teluk Saleh, Talisayan, Kaimana dan Gorontalo.

Kemunculannya bahkan menjadi daya tarik ekowisata. Masyarakat dan wisatawan dapat melihat langsung satwa tersebut di habitat alaminya dengan tetap mengikuti aturan interaksi yang berlaku.

Namun, popularitas itu juga membawa tantangan.

Jika interaksi wisata dilakukan tanpa aturan, keberadaan manusia justru dapat mengganggu perilaku alami hiu paus.

BACA JUGA  Mahalini dan Hindia Dibawa ke Dunia Erwin Gutawa, Forestra 2026 Jadi Pertarungan Musik Lintas Generasi

Raksasa Laut yang Justru Terancam

Ironisnya, hiu paus yang tidak dikenal sebagai predator manusia justru menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia.

Tabrakan dengan kapal, jaring atau alat tangkap perikanan, pencemaran laut hingga aktivitas wisata yang tidak terkendali dapat membahayakan satwa ini.

Kasus keterdamparan juga masih terjadi di Indonesia. Pada Agustus 2026, seekor hiu paus berukuran sekitar 3,2 meter ditemukan terdampar di Pantai Cemara Jajar, Cilacap, sebelum akhirnya mati.

Peristiwa seperti ini menjadi pengingat bahwa perlindungan hiu paus tidak bisa hanya dilakukan ketika satwa tersebut muncul di dekat manusia.

Habitatnya harus dijaga, aktivitas di laut perlu dilakukan secara bertanggung jawab, dan interaksi wisata harus tetap memperhatikan keselamatan satwa.

Bukan Monster, Tapi Raksasa yang Harus Dijaga

Hari Hiu Paus menjadi momentum untuk mengubah cara pandang terhadap satwa ini.

BACA JUGA  Dunia Film Indonesia Berduka, Sutradara Eugene Panji Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun

Ukuran tubuhnya memang bisa membuat orang takut. Namanya juga membawa kata “hiu”. Tetapi karakter dan pola makannya justru menunjukkan bahwa satwa ini bukan monster laut yang harus ditakuti.

Hiu paus adalah bagian dari ekosistem laut yang memiliki nilai ekologis sekaligus potensi bagi masyarakat melalui ekowisata.

Karena itu, semakin banyak orang mengenalnya, semakin penting pula memastikan keberadaannya tetap aman di lautan.

Hiu paus bisa tumbuh hingga 18 meter. Raksasa ini tidak memburu manusia, tetapi justru membutuhkan perlindungan dari manusia.

Hari Hiu Paus bukan sekadar peringatan. Ini menjadi pengingat bahwa laut memiliki raksasa yang harus tetap hidup, bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dijaga.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending