Connect with us

Business

Harga Emas Dunia Melesat, Tembus US$4.488 per Ons Jelang Data Payrolls AS

Published

on

KITASULSEL–JAKARTA — Harga emas dunia kembali menguat tajam pada perdagangan Kamis (3/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Jumat (4/9/2026) pagi waktu Indonesia. Kenaikan harga emas didorong pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sementara investor menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dapat menjadi penentu arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip data pasar yang dilaporkan Reuters, harga emas spot melonjak sekitar 2,3% menjadi US$4.488,54 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup menguat sekitar 2,8% ke level US$4.539,90 per ons.

Kenaikan tersebut memperkuat pemulihan harga emas setelah pada awal pekan logam mulia tersebut sempat tertekan akibat lonjakan dolar AS dan imbal hasil Treasury. Pada awal September, harga emas sempat turun ke sekitar US$4.328 per ons ketika yield Treasury 10 tahun mendekati 4,8% dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat.

Dolar dan Yield Treasury Jadi Penggerak

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan emas. Ketika dolar melemah, emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS mengurangi biaya peluang memegang emas. Emas tidak memberikan bunga atau imbal hasil seperti obligasi, sehingga harga emas cenderung mendapatkan dukungan ketika yield turun.

Pergerakan pasar pada Kamis juga dipengaruhi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed setelah Gubernur The Fed Christopher Waller memberikan sinyal bahwa bank sentral AS masih dapat mempertahankan suku bunga apabila inflasi terus menunjukkan tanda-tanda mereda.

Pernyataan Waller membuat pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September. Probabilitas kenaikan suku bunga yang sebelumnya berada di kisaran 60 persen lebih turun menjadi sekitar 50 persen setelah pernyataan tersebut.

BACA JUGA  IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways Hari Ini, Investor Diminta Cermati Tekanan Jual

Waller Beri Sinyal The Fed Bisa Tahan Suku Bunga

Waller mengatakan dirinya cenderung mendukung mempertahankan suku bunga pada pertemuan September apabila data inflasi Agustus kembali menunjukkan pelemahan.

Namun, ia tetap membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila inflasi kembali meningkat.

Sikap tersebut menunjukkan kebijakan The Fed masih sangat bergantung pada data ekonomi yang akan keluar sebelum rapat kebijakan.

Waller menilai kemajuan menuju target inflasi 2 persen perlu diberikan waktu. Karena itu, pasar kemudian menilai peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat menjadi lebih kecil.

Perubahan ekspektasi tersebut langsung berdampak pada pasar obligasi dan emas. Yield Treasury turun, sementara emas mendapatkan dorongan kuat.

Data Payrolls Jadi Perhatian Investor

Setelah pernyataan Waller, perhatian investor kini beralih ke data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan dirilis Jumat (4/9/2026) waktu setempat.

Data nonfarm payrolls atau penciptaan lapangan kerja di luar sektor pertanian menjadi salah satu indikator penting yang akan dipertimbangkan pasar dalam memperkirakan langkah The Fed.

Pasar sebelumnya memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja AS pada Agustus relatif terbatas. Reuters melaporkan median perkiraan ekonom menunjukkan penambahan sekitar 56.000 pekerjaan.

Jika data tenaga kerja menunjukkan pelemahan signifikan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dapat kembali berkurang. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan tambahan terhadap harga emas.

Sebaliknya, data pekerjaan yang jauh lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan ekonomi dan inflasi masih cukup tinggi. Dalam skenario tersebut, pasar dapat kembali meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga dan memberikan tekanan terhadap emas.

Ekspektasi Suku Bunga Masih Berubah-ubah

Pergerakan ekspektasi suku bunga The Fed dalam beberapa hari terakhir menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap setiap pernyataan pejabat bank sentral.

Sebelumnya, komentar Ketua The Fed Kevin Warsh yang bernada hawkish meningkatkan kekhawatiran bahwa suku bunga AS dapat kembali dinaikkan apabila inflasi tidak bergerak menuju target 2 persen.

BACA JUGA  OIKN Dapat Anggaran Rp6,7 Triliun di RAPBN 2027, Rp5,3 Triliun untuk Lanjutkan Pembangunan IKN

Pada akhir Agustus, ekspektasi kenaikan suku bunga September bahkan meningkat setelah pernyataan Warsh. Barclays kemudian memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September dan kembali menaikkannya pada Desember. Pada saat itu, pasar memperkirakan peluang kenaikan September sekitar 60,4 persen.

Namun, pandangan tersebut berubah setelah pernyataan Waller pada Kamis. Pasar kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed menahan suku bunga apabila data inflasi mendukung.

Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa harga emas mengalami penguatan tajam.

Emas Kembali Jadi Aset Lindung Nilai

Emas selama ini menjadi salah satu aset yang dicari investor ketika terjadi ketidakpastian ekonomi, geopolitik, maupun pasar keuangan.

Selain berfungsi sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas juga sering digunakan untuk melakukan diversifikasi portofolio.

Namun, emas memiliki karakteristik berbeda dengan obligasi atau deposito karena tidak memberikan pembayaran bunga. Oleh sebab itu, kenaikan suku bunga biasanya membuat emas menjadi relatif kurang menarik karena investor dapat memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari instrumen berbasis bunga.

Sebaliknya, ketika ekspektasi suku bunga turun dan yield obligasi melemah, daya tarik emas dapat meningkat.

Kondisi tersebut terlihat dalam perdagangan Kamis, ketika penurunan yield dan perubahan ekspektasi kebijakan The Fed beriringan dengan lonjakan harga emas.

Harga Emas Masih Sangat Sensitif terhadap Data AS

Pelaku pasar kini akan mencermati dua data utama sebelum pertemuan kebijakan The Fed pada September, yakni laporan ketenagakerjaan dan data inflasi AS.

Data pekerjaan menjadi penting karena memberikan gambaran mengenai kekuatan pasar tenaga kerja. Sementara data inflasi akan menjadi indikator utama untuk menentukan apakah tekanan harga masih membutuhkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

BACA JUGA  BBPOM Makassar Hadirkan Layanan Keliling , UMKM Dipermudah Urus Izin Edar Produk

Reuters mencatat data inflasi konsumen AS juga akan menjadi perhatian investor menjelang pertemuan The Fed pada 15-16 September.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan emas diperkirakan masih sangat bergantung pada perubahan ekspektasi terhadap suku bunga.

Bukan Hanya Emas yang Menguat

Penguatan tidak hanya terjadi pada emas. Harga sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami kenaikan pada perdagangan Kamis.

Harga perak spot tercatat naik sekitar 2,8%, platinum melonjak 4,2%, sementara palladium meningkat sekitar 5,9%.

Pergerakan tersebut menunjukkan meningkatnya minat terhadap aset logam mulia di tengah perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS dan ketidakpastian pasar global.

Di sisi lain, kondisi geopolitik juga masih menjadi faktor yang diperhatikan investor. Ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dapat memperbesar kekhawatiran mengenai tekanan inflasi global.

Investor Menunggu Sinyal Berikutnya

Kenaikan harga emas pada perdagangan terbaru memperlihatkan bahwa pasar kembali merespons positif pelemahan dolar, turunnya yield Treasury, dan berkurangnya peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September.

Namun, reli emas belum sepenuhnya lepas dari risiko pembalikan arah. Data payrolls dan inflasi AS dapat kembali mengubah ekspektasi investor dalam waktu singkat.

Jika data ekonomi AS menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja dan inflasi terus mereda, ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi emas.

Sebaliknya, data ekonomi yang kuat dan inflasi yang kembali meningkat dapat menghidupkan kembali ekspektasi kenaikan suku bunga. Dalam kondisi tersebut, dolar dan yield Treasury berpotensi kembali menguat dan menekan harga emas.

Dengan demikian, data ekonomi AS menjadi penentu utama arah emas dalam jangka pendek, sementara investor juga tetap mencermati perkembangan geopolitik dan pergerakan dolar serta obligasi pemerintah AS.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending