Connect with us

Nasional

Willem Wandik: Damai di Tanah Injil Tolikara Harus Menjadi Kesaksian Dunia, Warisan Penginjilan Tak Boleh Ternoda Konflik

Published

on

KITASULSEL — KARUBAGA – Perdamaian di Tanah Injil Tolikara bukan sekadar berakhirnya sebuah pertikaian. Lebih dari itu, perdamaian merupakan panggilan iman, tanggung jawab sejarah, sekaligus warisan moral yang harus dijaga oleh seluruh masyarakat, terutama generasi penerus penginjilan di Tanah Papua.

Pesan mendalam tersebut disampaikan Bupati Tolikara, Willem Wandik, SH, S.Sos, dalam refleksi dan seruan damai yang disampaikan menyusul deklarasi perdamaian dua kelompok masyarakat yang sebelumnya terlibat konflik.

Pada Sabtu (31/10/2026), perwakilan masyarakat Yikwa Kogoya dari Kogome dan Wanimbo Kogoya dari Agung Mulia meneguhkan komitmen perdamaian melalui penandatanganan kesepakatan damai di Tugu Salib, Kota Karubaga.

Momentum tersebut menjadi titik penting bagi pemulihan hubungan persaudaraan setelah pertikaian yang berlangsung pada 24–29 Oktober 2026.

Bagi Willem Wandik, kesediaan kedua kelompok untuk menghentikan permusuhan merupakan buah dari keterbukaan hati, pengendalian diri, serta kesadaran bersama bahwa persaudaraan jauh lebih berharga daripada amarah dan dendam.

“Puji Tuhan, hari ini kita meneguhkan komitmen perdamaian di Tugu Salib. Kita semua yang telah mewarisi ajaran Kristus memiliki tanggung jawab besar untuk memulihkan persaudaraan dan menjaga Tolikara sebagai Tanah Injil, Tanah Damai,” ungkap Willem.

Tanah Injil Harus Menjadi Tanah yang Menghadirkan Kedamaian

Willem menegaskan, identitas Tolikara sebagai Tanah Injil bukan sekadar kebanggaan sejarah atau simbol keagamaan. Identitas tersebut mengandung tanggung jawab moral dan spiritual yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, sebuah daerah yang dikenal sebagai pusat penginjilan harus mampu memperlihatkan nilai-nilai kasih, pengampunan, persatuan, dan penghormatan terhadap kehidupan.

Karena itu, konflik yang melibatkan hubungan keluarga, marga, hingga antarsuku menjadi keprihatinan bersama. Persoalan internal yang berkembang menjadi pertikaian sosial berpotensi merusak tatanan kehidupan masyarakat yang selama ini dibangun melalui perjuangan panjang para pendahulu.

“Ketika Gereja hendak membawa kabar keselamatan kepada bangsa-bangsa, kehidupan kita sendiri di Tanah Injil Tolikara harus memperlihatkan kasih yang kita wartakan,” demikian pesan Willem.

Ia mengingatkan bahwa apabila permusuhan terus dipelihara, keluarga akan hidup dalam ketakutan, anak-anak kehilangan ketenteraman, dan pelayanan gereja maupun aktivitas masyarakat akan terganggu.

BACA JUGA  Prabowo Ajak Rusia Bangun Jalur Pelayaran Langsung dan Percepat Perdagangan Bebas

Lebih jauh, kekerasan dapat mencederai nilai-nilai sosial, budaya, dan keimanan yang diwariskan generasi pertama penginjilan di Tolikara.

Menghormati Pengorbanan Para Perintis Penginjilan

Dalam refleksinya, Willem juga mengajak masyarakat kembali mengingat perjalanan panjang penginjilan di Tanah Papua.

Ia menyebut, para orang tua, leluhur, dan perintis penginjilan telah memberikan pengorbanan besar, bahkan mempertaruhkan tenaga, harta, dan kehidupan demi membawa kabar keselamatan kepada berbagai komunitas masyarakat di Tanah Papua.

Pengorbanan tersebut menjadi warisan iman yang tidak ternilai bagi generasi sekarang.

Dari perjuangan para pendahulu itulah, masyarakat Tolikara dan berbagai wilayah lainnya memperoleh kesempatan untuk mengenal Injil serta bertumbuh dalam persekutuan gereja.

Karena itu, Willem menilai, menjaga perdamaian merupakan salah satu bentuk penghormatan paling nyata terhadap perjuangan para perintis penginjilan.

Ia juga mengingatkan bahwa kehadiran Injil telah membawa perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat, termasuk mengarahkan pengharapan manusia kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.

“Melalui kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus Kristus, kita belajar menghormati kehidupan dan melepaskan keinginan untuk menumpahkan darah karena permusuhan. Kesediaan mengampuni dan memulihkan hubungan merupakan cara kita menghormati mereka yang telah mendahului kita,” pesannya.

Perdamaian Tolikara dan Masa Depan Misi GIDI Internasional

Salah satu bagian penting dalam refleksi Willem adalah keterkaitan perdamaian Tolikara dengan agenda pelayanan Gereja Injili di Indonesia (GIDI), khususnya persiapan pelayanan berskala internasional.

Ia mengungkapkan bahwa rangkaian persidangan klasis di Kuwari selama Oktober 2026 merupakan bagian dari agenda pelayanan gereja yang lebih luas, termasuk persiapan Sidang Klasis Kanggi pada Februari 2027.

Agenda tersebut memiliki arti penting dalam mempersiapkan dan memperkenalkan misi GIDI internasional kepada bangsa-bangsa di dunia.

Menurut Willem, persiapan pelayanan gereja tidak cukup hanya ditopang oleh kesiapan organisasi, kepanitiaan, dan agenda persidangan. Lebih dari itu, diperlukan kesatuan hati seluruh jemaat, keluarga, dan masyarakat.

Tolikara sebagai tanah yang memiliki sejarah panjang penginjilan harus terlebih dahulu memperlihatkan kehidupan yang rukun sebelum berbicara tentang pewartaan kasih kepada dunia.

BACA JUGA  Dibuka Menbud Fadli Zon, Pameran Pusaka Gau Maraja Pamerkan Keris Presiden Prabowo

Ia bahkan menyebut, dunia perlu melihat bahwa pesan Injil benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat Tolikara.

“Persiapan pelayanan internasional harus tumbuh dari kesungguhan kita semua untuk menjaga damai di tanah sendiri,” tegasnya.

Willem berharap, melalui agenda GIDI internasional, warisan penginjilan dari Tolikara dapat terus bertumbuh dan menjangkau masyarakat di berbagai belahan dunia, mulai dari Kepulauan Pasifik, Nusantara, Asia, Australia, Afrika, Eropa hingga Amerika.

Dengan demikian, perdamaian di Tolikara bukan hanya menjadi kebutuhan lokal, melainkan juga bagian dari kesaksian iman yang dapat menginspirasi masyarakat dunia.

Apresiasi untuk Seluruh Pihak yang Menghadirkan Perdamaian

Sebagai kepala daerah, Willem menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam meredakan konflik dan membuka ruang dialog.

Apresiasi tersebut ditujukan kepada jajaran pemerintah daerah, TNI-Polri, para pemimpin gereja, tokoh agama, kepala suku, pemangku adat, keluarga kedua belah pihak, serta seluruh masyarakat yang berkontribusi dalam proses perdamaian.

Ia menilai, perdamaian yang terwujud merupakan hasil dari kemauan bersama untuk mendengarkan, menahan diri, dan mengutamakan keselamatan masyarakat.

Deklarasi damai yang ditandatangani kedua kelompok juga memuat komitmen untuk menghentikan penyerangan, pengerahan kelompok massa, serta segala bentuk tindakan balasan yang berpotensi memicu konflik kembali.

Willem berharap kesepakatan tersebut tidak berhenti sebagai dokumen atau seremoni, tetapi benar-benar menjadi komitmen yang dijalankan dalam kehidupan keluarga, hubungan antarmarga, dan interaksi antarsuku.

Ia juga menegaskan bahwa Tolikara harus menjadi rumah yang aman bagi semua orang, tanpa memandang perbedaan agama, suku, marga, maupun asal daerah.

Semangat tersebut, menurutnya, sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Tolikara dalam RPJMD 2025–2029, yakni mewujudkan kehidupan masyarakat yang religius, berbudaya, mandiri, adil, dan sejahtera.

Serukan Tiga Hari Doa dan Puasa

Sebagai bagian dari upaya pemulihan spiritual dan sosial, Willem secara khusus mengimbau seluruh jemaat dan masyarakat Kristen di Tolikara untuk melaksanakan Tiga Hari Doa dan Puasa selama beberapa hari ke depan.

Seruan tersebut ditujukan untuk memperkuat iman, memohon pengampunan, serta menyerahkan seluruh pergumulan masyarakat Tolikara kepada Tuhan.

BACA JUGA  Langkah Luhut Tingkatkan Transparansi dan Efektivitas Penyaluran Bansos

Ia mengajak para pemimpin gereja untuk menuntun pelaksanaan doa dan puasa di jemaat masing-masing.

Menurutnya, momentum ini harus menjadi kesempatan bagi setiap orang untuk memeriksa hati, mengendalikan amarah, melepaskan dendam, dan membuka ruang pengampunan.

Selain mendoakan pemulihan masyarakat, doa bersama juga diharapkan mengiringi seluruh persiapan persidangan klasis dan agenda GIDI internasional.

Willem berharap para pelayan gereja, panitia, dan seluruh jemaat dapat bekerja dalam kesatuan hati, kerendahan hati, dan tanggung jawab.

Warisan Damai untuk Generasi Mendatang

Menutup refleksinya, Willem mengingatkan bahwa perdamaian yang diteguhkan di Tugu Salib pada 31 Oktober 2026 harus menjadi momentum bersejarah untuk memperbarui tanggung jawab seluruh masyarakat terhadap warisan penginjilan.

Ia menginginkan agar anak cucu masyarakat Tolikara kelak menerima warisan tanah leluhur yang aman, damai, serta memiliki hubungan persaudaraan yang tetap terpelihara.

Generasi muda juga harus dibimbing untuk tumbuh dengan iman yang teguh, menghormati nilai-nilai kehidupan, serta memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling bermusuhan.

“Umat Tuhan di Tanah Injil Tolikara perlu memperlihatkan bahwa iman mampu menuntun manusia melewati kemarahan, bahwa keluarga dapat dipulihkan, dan masyarakat yang terluka dapat kembali membangun kepercayaan. Inilah kesaksian yang hendak kita bawa melalui misi GIDI internasional dari Tanah Injil kepada dunia,” ungkapnya.

Bagi Willem, perdamaian bukan pekerjaan satu hari, bukan pula tanggung jawab satu kelompok atau seorang pemimpin. Perdamaian adalah tanggung jawab bersama yang harus dirawat setiap saat.

Tanda tangan damai di Tugu Salib harus menjadi awal perjalanan baru bagi masyarakat Tolikara: meninggalkan permusuhan, merawat persaudaraan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai kasih dalam kehidupan bermasyarakat.

“Marilah kita memelihara damai di Tanah Injil dan merawat warisan penginjilan dengan kasih. Kiranya Tuhan Yesus Kristus menguatkan setiap langkah perdamaian, memulihkan masyarakat Tolikara, dan menuntun GIDI dalam mempersiapkan pelayanan kepada bangsa-bangsa di seluruh dunia.”

Tuhan memberkati Tanah Injil Tolikara.

Syalom. Yaki-Yaki, Wa-Wa.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending