Connect with us

Dinas Sosial Makassar

Mendidik Anak di Tengah Maraknya Begal dan Geng Motor, Orang Tua Harus Menjadi Benteng Pertama Pembentukan Karakter

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Mendidik anak pada era sekarang menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Orang tua tidak hanya berhadapan dengan perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, tetapi juga harus menghadapi perubahan lingkungan sosial yang terkadang memperlihatkan perilaku menyimpang sebagai sesuatu yang biasa.

Berbagai kasus kriminalitas seperti begal, geng motor, perkelahian, pengeroyokan, pencurian, hingga kekerasan di jalanan yang melibatkan anak di bawah umur dan kalangan pemuda menjadi perhatian serius masyarakat.

Fenomena tersebut seharusnya menjadi alarm bagi setiap keluarga. Sebab, persoalan kenakalan remaja tidak cukup diselesaikan dengan penindakan hukum setelah kejahatan terjadi. Ada upaya pencegahan yang harus dibangun sejak anak masih berada dalam lingkungan keluarga.

Anak yang tumbuh tanpa pendampingan memadai, kehilangan perhatian, terbiasa menyaksikan kekerasan, atau berada dalam pergaulan yang salah dapat menghadapi risiko lebih besar terlibat perilaku menyimpang. Namun, tidak ada satu faktor tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus. Kondisi ekonomi, konflik keluarga, tekanan pergaulan, paparan konten digital, lemahnya pengawasan, hingga pencarian pengakuan sosial dapat saling memengaruhi.

BACA JUGA  IKAPAN Makassar Gelar Mubes XI, Perkuat Ukhuwah dan Kontribusi Alumni Pesantren An Nahdlah

Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh hanya diserahkan kepada sekolah. Keluarga, masyarakat, dan lingkungan pendidikan harus mengambil peran bersama.

1. Jangan hanya memenuhi kebutuhan materi, penuhi juga kebutuhan emosional anak

Banyak orang tua bekerja keras untuk memberikan makanan, pakaian, pendidikan, dan fasilitas terbaik. Namun, kebutuhan anak tidak berhenti pada hal-hal material.

Anak juga membutuhkan perhatian, kasih sayang, rasa aman, penghargaan, dan kesempatan untuk didengarkan.

Kesibukan mencari nafkah terkadang membuat komunikasi keluarga semakin berkurang. Akibatnya, orang tua tidak mengetahui persoalan yang sedang dihadapi anak, siapa teman dekatnya, apa yang ditontonnya, dan tekanan apa yang dialaminya.

Luangkan waktu setiap hari untuk berbicara dengan anak. Kehadiran orang tua secara emosional merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan dan kedekatan.

BACA JUGA  Ilham Husen Pimpin JMSI Sulsel, Pengurus Periode 2025-2030 Resmi Terbentuk

2. Ajarkan adab sebelum anak mengejar pengakuan dan kesuksesan

Anak perlu memahami bahwa kecerdasan, keberanian, kekuatan fisik, dan kemampuan ekonomi tidak berarti apa-apa jika tidak disertai adab dan tanggung jawab.

Ajarkan menghormati orang tua, guru, tetangga, dan sesama manusia. Biasakan mengucapkan terima kasih, meminta maaf, menghargai perbedaan, serta tidak merendahkan orang lain.

Jelaskan bahwa menjadi kuat bukan berarti mampu menakut-nakuti orang lain. Menjadi berani bukan berarti berani berkelahi. Justru keberanian yang sesungguhnya adalah mampu menolak ajakan buruk meskipun datang dari teman dekat.

3. Kenali pergaulan anak sebelum terlambat

Orang tua perlu mengenal lingkungan pertemanan anak tanpa harus mengawasi secara berlebihan.

Ketahui dengan siapa anak menghabiskan waktu, ke mana mereka pergi, kegiatan apa yang dilakukan, dan bagaimana perilaku kelompok pertemanannya.

Waspadai perubahan yang tidak biasa, seperti anak semakin tertutup, sering pulang larut tanpa penjelasan, mudah tersulut emosi, mulai mengancam orang lain, membawa benda berbahaya, atau menunjukkan ketertarikan berlebihan terhadap kelompok yang mengagungkan kekerasan.

BACA JUGA  Jangan Tidur Lelap! Pencurian Mulai Meresahkan dan Jadi Ancaman, Warga Makassar Diminta Perketat Keamanan

Jangan langsung menuduh. Ajak berbicara, cari tahu penyebabnya, dan bangun komunikasi dengan keluarga teman maupun pihak sekolah jika diperlukan.

4. Jadikan literasi digital sebagai kebutuhan keluarga

Anak sekarang dapat mengakses berbagai informasi hanya melalui telepon genggam. Sayangnya, tidak semua informasi dan tontonan membawa pengaruh positif.

Konten kekerasan, penghinaan, aksi berbahaya, pamer kekuatan kelompok, hingga ajakan melakukan tindakan melanggar hukum dapat muncul di ruang digital.

Orang tua perlu mendampingi penggunaan internet, mengenali platform yang digunakan anak, menetapkan batas waktu layar, dan mengajarkan kemampuan memeriksa kebenaran informasi.

Jelaskan bahwa popularitas di media sosial bukan ukuran keberhasilan. Tindakan berbahaya yang mendapat banyak penonton bukan berarti patut ditiru.

**5. Latih anak meng

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending