Connect with us

DISKOMINFO KAB SIDRAP

Dari Sidrap ke Panggung Dunia, Sanggar Pajoge Andino Konsisten Rawat Budaya dan Cetak Generasi Berprestasi

Published

on

Kitasulsel–SIDRAP – Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, terus menunjukkan kiprahnya dalam menjaga kelestarian seni dan budaya sekaligus membina generasi muda.

Selama lebih dari satu dekade, sanggar yang didirikan pada 2013 oleh pasangan seniman Miftahul Jannah, S.Sn., M.Pd., dan Henra Setiawan, S.Pd., M.Pd., itu telah membawa nama Sidrap hingga ke berbagai panggung nasional dan internasional.

Keduanya mendirikan sanggar dengan dilandasi kepedulian terhadap dunia pendidikan, pembentukan karakter generasi muda, serta pelestarian budaya daerah.

Pada awal berdiri, kegiatan sanggar berfokus pada kelas pelatihan tari, terutama bagi siswa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Namun, proses pembelajaran yang diterapkan tidak sekadar mengajarkan teknik dan gerakan tari. Para peserta didik juga dibentuk untuk memiliki kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, keberanian, rasa tanggung jawab, hingga kecintaan terhadap budaya daerah.

Dari pola pembinaan tersebut, lahir sejumlah generasi muda yang kemudian memiliki kesempatan membawa nama Sidrap dan Sulawesi Selatan ke berbagai ajang prestasi.

Salah satu tonggak penting terjadi pada 2015. Peserta didik binaan Sanggar Seni Pajoge Andino berhasil meraih juara tari kreasi dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) dan dipercaya mewakili Provinsi Sulawesi Selatan.

Prestasi itu menjadi bukti bahwa pembinaan seni yang dilakukan secara konsisten dapat membuka jalan bagi anak-anak daerah untuk berkompetisi di level yang lebih luas.

Tampil di Istana Negara hingga Singapura

Kiprah Pajoge Andino semakin berkembang pada 2016. Sanggar tersebut mengikuti ajang HTD UNNES di Kota Semarang dan mendapat kesempatan menampilkan karya tari di Istana Negara.

BACA JUGA  Pemkab Sidrap Perkuat Hilirisasi Peternakan untuk Tingkatkan Daya Saing Produk Lokal

Pada tahun yang sama, sanggar juga dipercaya mewakili Kabupaten Sidenreng Rappang dalam Malay Culture Festival di Singapura.

Kesempatan tampil di luar negeri menjadi pengalaman berharga bagi para peserta didik sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan seni dan budaya Sulawesi Selatan kepada masyarakat internasional.

Perjalanan ke panggung internasional berlanjut pada 2018 ketika Sanggar Seni Pajoge Andino mengikuti Rider Festival di Kamboja.

Di tahun yang sama, Miftahul Jannah dan Henra Setiawan juga mendapat kesempatan menjadi bagian dari penari dalam karya monumental I La Galigo, yang merupakan salah satu karya penting dalam khazanah budaya Sulawesi Selatan.

Beragam pengalaman tersebut tidak hanya memperluas wawasan para penggiat sanggar, tetapi juga memperkuat komitmen Pajoge Andino menjadikan seni sebagai jembatan budaya antardaerah hingga antarbangsa.

Pada 2019, kiprah sanggar kembali berlanjut melalui partisipasi dalam Festival Panji di Surabaya serta Festival Tari Anak di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Dalam perjalanannya, Sanggar Pajoge juga beberapa kali memperoleh dukungan dana hibah dari Kementerian Kebudayaan untuk menunjang aktivitas kebudayaan dan kesenian.

Kembangkan Ekonomi Berbasis Seni

Seiring perkembangan organisasi, aktivitas Pajoge Andino tidak berhenti pada pelatihan dan pertunjukan tari.

Sanggar juga mengembangkan usaha penyewaan kostum tari untuk memenuhi kebutuhan pementasan sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis seni.

Langkah tersebut kemudian berkembang pada 2020 ketika Miftahul Jannah membuka butik yang menyediakan berbagai kebutuhan busana, mulai dari baju bodo, gaun hingga jas tutup.

BACA JUGA  Hadiri Buka Puasa Bersama Jajaran Polres Sidrap,Bupati Syaharuddin Alrif:Komunikasi dan Kalaborasi Untuk Sidrap Lebih Maju

Keberadaan butik tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan busana tradisional Sulawesi Selatan dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Bagi Pajoge Andino, baju bodo tidak hanya dipandang sebagai pakaian tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang dapat dikembangkan mengikuti kebutuhan zaman tanpa menghilangkan nilai filosofisnya.

Saat ini, Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino juga membuka berbagai layanan dan program pengembangan keterampilan bagi masyarakat dan generasi muda.

Program tersebut meliputi kelas tari untuk jenjang TK, SD, SMP, SMA hingga mahasiswa; kelas olah tubuh untuk meningkatkan kebugaran, kelenturan, kekuatan dan kesiapan fisik; serta kelas modeling untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan tampil di depan umum.

Selain itu, Pajoge Andino mengembangkan layanan Wedding Organizer (WO), Event Organizer (EO), serta jasa penyewaan baju dan kostum, termasuk busana tari, pakaian adat dan pakaian tradisional.

Berbagai bidang tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi, mendapatkan pengalaman kerja, membangun kemandirian sekaligus terlibat dalam industri kreatif dan kebudayaan.

Diperkuat Dua Pendidik dan Seniman

Perjalanan Pajoge Andino tidak terlepas dari dukungan keluarga. Miftahul Jannah yang saat ini menjabat sebagai Direktur Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino juga berprofesi sebagai dosen seni berstatus ASN pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Makassar (UNM).

Sementara Henra Setiawan merupakan guru seni berstatus ASN di UPTD SMP Negeri 1 Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap.

Latar belakang keduanya sebagai pendidik sekaligus seniman menjadi kekuatan tersendiri dalam menjaga kesinambungan pembinaan seni di Sanggar Pajoge Andino.

BACA JUGA  Undangan di Tengah Syawalan: Langkah Strategis Bupati Sidrap Bidik Panggung Pendidikan Sulsel

Selama lebih dari satu dekade, perjalanan sanggar tidak hanya dihitung dari banyaknya panggung, festival maupun penghargaan.

Setiap latihan, pertunjukan, kompetisi dan perjalanan menjadi bagian dari proses panjang menanamkan kecintaan terhadap budaya, membangun karakter generasi muda, serta memperkenalkan kekayaan budaya Sidenreng Rappang dan Sulawesi Selatan.

Kembali Bawa Nama Sidrap ke Panggung Nasional

Komitmen tersebut masih terus dilanjutkan.

Pada 4-6 September 2026 mendatang, Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino dijadwalkan kembali membawa nama Kabupaten Sidenreng Rappang dalam Festival Payung Indonesia XIII di Solo, Jawa Tengah.

Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Sidrap melalui seni pertunjukan dan karya-karya yang berakar pada tradisi.

Bagi Pajoge Andino, sanggar bukan sekadar tempat belajar tari.

Sanggar menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda, ruang berkarya bagi seniman, ruang belajar bagi masyarakat, sekaligus ruang untuk menciptakan peluang kerja dan mempertemukan tradisi dengan kreativitas masa kini.

Dari sebuah sanggar yang dirintis pasangan seniman pada 2013, Pajoge Andino kini telah melewati berbagai panggung nasional dan internasional.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran bahwa kebudayaan akan terus hidup ketika ada generasi yang bersedia merawat, mengajarkan, mengembangkan dan mewariskannya.

Yayasan Sanggar Seni Pajoge Andino pada akhirnya bukan hanya tentang tari. Lebih dari itu, Pajoge Andino adalah tentang perjalanan, pengabdian, pendidikan, prestasi, penciptaan peluang kerja, dan kecintaan untuk menjaga denyut kebudayaan di Bumi Nene Mallomo.

Dari Sidrap untuk Indonesia, dari tradisi menuju masa depan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending