Connect with us

Sulsel Keren

Bukan Cuma Gua dan Air Terjun, TWA Sidrap Menyimpan Jejak Perjuangan yang Tak Banyak Diketahui

Published

on

KITASULSEL– SIDRAP – Di balik hutan hijau, gua kelelawar dan suara air terjun yang mengalir, kawasan Maddenra di Kabupaten Sidenreng Rappang ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih dalam.

Tempat itu adalah Taman Wisata Alam (TWA) Sidrap, kawasan konservasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan jejak sejarah perjuangan kemerdekaan di Sulawesi Selatan.

TWA Sidrap berada di Desa Maddenra, Kecamatan Kulo, dengan luas sekitar 246,25 hektare. Kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 196/Kpts-II/2003.

Namun jauh sebelum menjadi kawasan wisata alam, hutan Maddenra telah memiliki peran dalam perjalanan sejarah daerah.

Di Balik Gua dan Air Terjun

Bagi pencinta wisata alam, TWA Sidrap menawarkan sejumlah daya tarik.

Ada Gua Kelelawar, air terjun, sumur belerang hingga panorama hutan yang masih menjadi daya tarik kawasan tersebut.

BACA JUGA  "Nene Mallomo" Tokoh Legendaris Sidrap yang Mengajarkan Hukum Tak Kenal Anak maupun Cucu

Gua dan air terjun menjadi bagian dari pengalaman menjelajah alam, sementara keberadaan sumber air dan kawasan hutan membuat Maddenra memiliki karakter tersendiri dibanding destinasi wisata yang hanya mengandalkan panorama.

Tetapi ada alasan lain mengapa kawasan ini menarik untuk dikenali.

Sejarah.

Hutan yang Pernah Menjadi Basis Perjuangan

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan mencatat TWA Sidrap memiliki nilai historis sebagai salah satu basis pergerakan pejuang kemerdekaan 1945 di Sulawesi Selatan.

Sejumlah tokoh perjuangan disebut pernah terkait dengan kawasan tersebut, termasuk Andi Oddang, Andi Selle dan Usman Balo.

Bagi para pejuang, hutan bukan sekadar bentang alam.

Di tengah situasi perjuangan, kawasan seperti Maddenra dapat menjadi ruang untuk bergerak, berlindung dan menyusun kekuatan.

BACA JUGA  Rasakan Sensasi Senja yang Beda: Sailing Elegan di Atas Kapal Pinisi Bersama Sahabat Pinisi Makassar

Karena itulah, ketika wisatawan hari ini menyusuri kawasan TWA Sidrap, yang dilewati sebenarnya bukan hanya jalur menuju air terjun atau gua.

Ada bagian dari perjalanan sejarah yang pernah berlangsung di kawasan tersebut.

Wisata Alam Sekaligus Wisata Sejarah

Potensi inilah yang membuat TWA Sidrap menarik jika dikembangkan tidak hanya sebagai destinasi rekreasi, tetapi juga sebagai wisata edukasi sejarah dan alam.

Pengunjung bisa menikmati suasana hutan sekaligus mengenal kisah perjuangan masyarakat Sulawesi Selatan.

Konsep tersebut membuat perjalanan ke TWA Sidrap tidak berhenti pada aktivitas berfoto atau menikmati pemandangan.

Setiap kawasan bisa memiliki cerita.

Setiap jalur bisa menjadi bagian dari perjalanan mengenal masa lalu.

BACA JUGA  Program Bedah Rumah dan Rumah Subsidi di Sulsel Terus Digenjot, 18.574 Unit Terealisasi

Dan hutan yang selama ini mungkin hanya terlihat sebagai hamparan hijau, ternyata pernah menjadi bagian dari sejarah yang jauh lebih besar.

Alam yang Menyimpan Ingatan

Selain nilai sejarah, kawasan ini juga penting dari sisi konservasi.

BBKSDA Sulawesi Selatan mencatat adanya kekayaan flora dan fauna di kawasan TWA Sidrap, termasuk ekosistem gua yang menjadi habitat kelelawar.

Karena itu, pengembangan wisata perlu berjalan seiring dengan perlindungan kawasan.

Sebab, menjaga TWA Sidrap bukan hanya soal mempertahankan air terjun, gua dan hutan.

Ada ingatan sejarah yang ikut tersimpan di dalamnya.

TWA Sidrap akhirnya menawarkan pengalaman yang cukup lengkap: menikmati alam, menjelajahi kawasan hutan sekaligus mengenal kisah perjuangan yang mungkin belum banyak diketahui.

Di Maddenra, alam dan sejarah ternyata berjalan beriringan.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending