Connect with us

Sulsel Keren

Tren Pernikahan 2026: Anak Muda Bugis-Makassar Padukan Adat Leluhur dengan Konsep Modern

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Pernikahan modern dengan dekorasi mewah, konsep minimalis, hingga dokumentasi sinematik semakin memberi warna pada industri pernikahan. Namun, di tengah perubahan tren tersebut, identitas budaya Bugis-Makassar tetap memiliki tempat tersendiri dalam pilihan calon pengantin di Sulawesi Selatan.

Menariknya, pasangan muda kini tidak selalu memilih antara pernikahan tradisional atau modern. Keduanya justru dapat dipadukan untuk menghadirkan pesta pernikahan yang lebih personal tanpa meninggalkan akar budaya keluarga.

Fenomena tersebut terlihat dalam perkembangan konsep industri pernikahan di Makassar sepanjang 2026. Salah satu contohnya adalah Wedding Expo bertajuk Mappabotting Ri Gammara yang berlangsung pada 4–6 September 2026 di Gammara Hotel Makassar.

Kegiatan tersebut menghadirkan konsep perpaduan kemewahan modern dengan tradisi Bugis, Makassar, Mandar, hingga Toraja. Berbagai kebutuhan pernikahan, mulai dari busana adat, dekorasi, tata rias hingga layanan penyelenggaraan acara ditampilkan sebagai referensi bagi calon pengantin.

BACA JUGA  Mengungkap Jejak Sang Merah Putih, Sejarah Bendera Indonesia dari Era Megalitikum hingga Kemerdekaan

Perkembangan ini sejalan dengan penelitian Ainun Fatimah dan Nurasia Natsir yang diterbitkan pada 30 Juni 2026 dalam Bhinneka: Jurnal Bintang Pendidikan dan Bahasa.

Penelitian yang melibatkan 42 informan dari Makassar, Bone, dan Wajo tersebut menemukan adanya perubahan cara generasi muda memaknai ritual pernikahan adat.

Pasangan muda cenderung memilih unsur tradisi yang ingin dipertahankan, menggabungkan prosedur adat dengan konsep kontemporer, serta memanfaatkan media sosial untuk menampilkan identitas budaya mereka.

Salah satu tradisi yang tetap memiliki makna penting adalah Mappacci dalam masyarakat Bugis. Prosesi ini mengandung doa dan harapan agar calon pengantin memasuki kehidupan rumah tangga dengan niat baik serta memperoleh keberkahan.

BACA JUGA  Festival Kelong All Genre Meledak, Sosok DORA di Balik Meriahnya Panggung Talenta Lembo

Sementara itu, penggunaan busana adat seperti baju bodo dan berbagai perlengkapan tradisional juga menjadi bagian yang dapat dipertahankan dalam konsep resepsi modern.

Tidak hanya soal penampilan, pembicaraan mengenai pernikahan Bugis-Makassar juga tidak terlepas dari uang panai.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari kesepakatan keluarga dalam rangkaian pernikahan. Karena itu, komunikasi antara kedua keluarga menjadi penting agar persiapan pernikahan tetap berjalan dengan baik tanpa mengabaikan kemampuan ekonomi pasangan.

Di sisi lain, perubahan konsep pernikahan juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Perias pengantin adat, desainer busana, pembuat dekorasi, fotografer, hingga penyedia jasa penyelenggara pernikahan memiliki kesempatan memperkenalkan kreativitas mereka melalui perpaduan konsep tradisional dan modern.

BACA JUGA  Sinrilik Terancam Hilang Ditelan Zaman, Cerita Leluhur Makassar Kalah Bersaing dengan Layar Ponsel

Bagi generasi muda, mempertahankan adat tidak harus berarti meninggalkan perkembangan zaman. Tradisi dapat tetap dijalankan dengan cara yang lebih kreatif, selama nilai dan makna dasarnya tidak hilang.

Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya tentang kemegahan dekorasi atau seberapa besar pesta diselenggarakan. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, momen tersebut juga menjadi ruang mempertemukan dua keluarga, menjaga kehormatan, serta meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya.

Inilah tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda Sulawesi Selatan: menghadirkan pernikahan yang modern, tetapi tetap memiliki identitas budaya sendiri.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending