Connect with us

Sulsel Keren

Sinrilik Terancam Hilang Ditelan Zaman, Cerita Leluhur Makassar Kalah Bersaing dengan Layar Ponsel

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Di tengah kebiasaan masyarakat menikmati cerita melalui layar ponsel, seni bertutur Sinrilik menghadapi tantangan besar. Tradisi lisan masyarakat Makassar yang dahulu hadir dalam berbagai kegiatan sosial kini berhadapan dengan perubahan selera hiburan dan semakin terbatasnya regenerasi penutur.

Sinrilik bukan sekadar seni bercerita. Tradisi ini menyampaikan kisah melalui lantunan berirama, terkadang diiringi alat musik gesek tradisional bernama sinriliq atau kesok-kesok. Cerita yang dibawakan dapat memuat sejarah, kepahlawanan, percintaan, petuah, hingga nilai kehidupan masyarakat Makassar.

Pada masa lalu, Sinrilik kerap hadir dalam acara perkawinan, sunatan, pesta panen, hingga perayaan rumah baru. Penutur Sinrilik atau passinrilik menjadi penghubung antara cerita masa lalu dan masyarakat yang mendengarkannya.

BACA JUGA  Program Bedah Rumah dan Rumah Subsidi di Sulsel Terus Digenjot, 18.574 Unit Terealisasi

Namun, ruang hidup kesenian ini tidak lagi sebesar dahulu. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan mencatat bahwa minat terhadap Sinrilik dan jumlah pelakunya mengalami penurunan, seiring hadirnya berbagai bentuk hiburan baru yang menggantikan fungsi kesenian tersebut dalam acara masyarakat.

Tantangan itu bukan hanya soal mempertahankan pertunjukan. Ketika penutur semakin terbatas dan cerita tidak terdokumentasi dengan baik, pengetahuan tentang bahasa, sejarah, serta pandangan hidup yang terkandung di dalamnya berisiko ikut terputus.

Salah satu cerita Sinrilik yang dikenal luas adalah Kappalak Tallung Batua. Kisah-kisah semacam ini menyimpan jejak sejarah dan nilai budaya yang diwariskan melalui tuturan, bukan semata-mata melalui tulisan.

Sekolah Sinrilik Jadi Upaya Regenerasi

BACA JUGA  Danau Matano Luwu Timur, di Balik Keindahan dan Kedalamannya, Airnya Membantu Ilmuwan Membaca Bumi Miliaran Tahun Lalu

Upaya menjaga tradisi tersebut mulai diperkuat di Kabupaten Gowa. Pada 2 Mei 2026, Sekolah Sinrilik Angkatan I dibuka di Sanggar Bakti Antara Nusantara, Desa Maccini Baji, Kecamatan Bajeng.

Program ini menjadi ruang pembelajaran bagi calon penerus untuk mengenal teknik bertutur, memahami makna cerita, serta menjaga tradisi agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menekankan bahwa Sinrilik menyimpan sejarah, nilai kepahlawanan, dan etika hidup masyarakat Gowa. Karena itu, pelestariannya membutuhkan keterlibatan generasi muda, bukan hanya dukungan pemerintah.

Selain pembelajaran langsung, dokumentasi audio dan video, pengarsipan cerita, serta pengenalan Sinrilik di sekolah dapat memperluas akses masyarakat terhadap warisan tersebut.

Teknologi digital bahkan bisa menjadi ruang baru bagi Sinrilik untuk dikenal. Rekaman pertunjukan, cerita dengan terjemahan, hingga materi pembelajaran daring dapat membantu generasi muda mengenal tradisi ini tanpa harus selalu menunggu pertunjukan langsung.

BACA JUGA  Tanaman di Gowa Kini Dipantau Lewat Sensor, Mahasiswa UNM Bawa Teknologi IoT ke Lahan Petani

Meski demikian, dokumentasi saja tidak cukup. Sinrilik perlu tetap dituturkan, dipelajari, dan diberi ruang dalam kehidupan masyarakat agar tidak berhenti sebagai arsip budaya.

Tantangan terbesar bukan semata-mata menghadapi ponsel atau hiburan modern, melainkan memastikan bahwa generasi berikutnya masih memiliki kesempatan untuk mendengar, memahami, dan meneruskan cerita leluhurnya.

Jika regenerasi tidak berjalan, yang hilang bukan hanya sebuah pertunjukan tradisional. Bersamanya, masyarakat Makassar berisiko kehilangan salah satu cara untuk menyimpan sejarah, menyampaikan nilai kehidupan, dan mengenali identitas budayanya sendiri.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending