Connect with us

DPRD Kota Makassar

DPRD Makassar Dorong Edukasi Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga, Umiyati: Harus Konsisten

Published

on

KITASULSEL–MAKASSAR – DPRD Kota Makassar mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar untuk terus memperkuat edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah yang dimulai dari lingkungan rumah tangga.

Upaya tersebut dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam mengatasi persoalan persampahan di Kota Makassar. Pasalnya, penanganan sampah tidak hanya bergantung pada ketersediaan armada pengangkut, tempat pembuangan, maupun fasilitas pengolahan yang disiapkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sejak dari sumber sampah itu sendiri.

Anggota DPRD Kota Makassar, Hj Umiyati, menegaskan bahwa kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah harus terus dibangun melalui edukasi yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Menurutnya, kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan seharusnya dimulai dari rumah masing-masing. Masyarakat perlu memahami bahwa sampah yang dihasilkan setiap hari memiliki dampak terhadap kondisi lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

“Pengelolaan sampah ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Pemerintah memiliki peran penting menyediakan fasilitas dan sistem yang baik, tetapi masyarakat juga harus ikut berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan. Harus konsisten,” tegas Umiyati, Sabtu (17/10/2026).

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut menjelaskan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menyelesaikan persoalan sampah. Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, serta berbagai elemen lingkungan agar upaya pengurangan sampah dapat berjalan maksimal.

BACA JUGA  DPRD Makassar Desak Evaluasi Anggaran: Fokus ke Dampak, Bukan Sekadar Angka

Ia menilai, salah satu pendekatan yang perlu diperkuat adalah membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah tangga. Langkah sederhana tersebut dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.

Umiyati menyarankan agar edukasi yang diberikan kepada warga lebih banyak diarahkan pada tindakan praktis yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya dengan membiasakan pemisahan sampah organik dan anorganik. Sampah organik seperti sisa makanan, daun, dan limbah dapur dapat dikelola menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan kemasan tertentu dapat dipilah untuk dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.

Menurutnya, kebiasaan memilah sampah tersebut perlu diperkenalkan secara luas agar masyarakat tidak lagi mencampurkan seluruh jenis sampah dalam satu wadah sebelum dibuang.

Selain pemilahan sampah, masyarakat juga perlu didorong untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Penggunaan kantong belanja berulang kali, membawa botol minum sendiri, serta mengurangi kemasan plastik merupakan sejumlah langkah sederhana yang dapat membantu menekan timbulan sampah.

Ia juga mendorong Pemkot Makassar untuk mengintegrasikan edukasi pengelolaan sampah dengan program urban farming atau pertanian perkotaan.

BACA JUGA  Pemkot-DPRD Makassar Sepakat, Dua Ranperda Jadi Perda

Melalui pemanfaatan pekarangan rumah, masyarakat tidak hanya dapat menanam berbagai jenis tanaman pangan dan tanaman produktif, tetapi juga berkesempatan mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk kompos.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak semata-mata dipandang sebagai kewajiban membuang limbah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari aktivitas produktif yang memberikan manfaat langsung bagi keluarga.

Umiyati menilai, pendekatan edukasi yang disertai praktik langsung akan lebih mudah diterima masyarakat dibandingkan sosialisasi yang hanya dilakukan melalui penyampaian materi atau kegiatan seremonial.

Karena itu, ia berharap Pemkot Makassar dapat memperluas jangkauan sosialisasi hingga ke tingkat kelurahan, RT dan RW. Pelibatan tokoh masyarakat, kader lingkungan, kelompok perempuan, pemuda, serta komunitas peduli lingkungan juga dinilai penting untuk memperkuat gerakan pengurangan sampah dari tingkat paling bawah.

Menurutnya, keberhasilan program pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat memahami dan menerapkan kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan agar kegiatan edukasi tidak hanya dilakukan ketika muncul persoalan penumpukan sampah atau saat pemerintah menggelar program kebersihan tertentu. Sosialisasi harus menjadi agenda berkelanjutan sehingga kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh menjadi budaya bersama.

BACA JUGA  Udin Saputra Malik Gelar Pengawasan Pemerintahan Daerah Bersama Dinas Kearsipan Makassar

Di sisi lain, pemerintah tetap diharapkan memastikan ketersediaan sarana dan prasarana persampahan yang memadai. Fasilitas tempat sampah terpilah, sistem pengangkutan, serta pengelolaan sampah yang terintegrasi perlu berjalan seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat.

Dengan adanya dukungan fasilitas dan partisipasi warga, upaya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir diharapkan dapat dilakukan secara bertahap.

Umiyati berharap, gerakan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga dapat menjadi kebiasaan masyarakat Kota Makassar, bukan sekadar program sementara yang hanya ramai ketika dilaksanakan sosialisasi.

Ia menekankan bahwa menjaga kebersihan kota membutuhkan komitmen bersama dan tindakan nyata dari seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau dimulai dari rumah tangga dan dilakukan secara konsisten, tentu akan memberikan dampak terhadap kebersihan lingkungan. Karena itu, edukasi harus terus dilakukan agar masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kebersihan merupakan tanggung jawab bersama,” demikian Umiyati.

Melalui penguatan edukasi dan keterlibatan masyarakat, DPRD berharap Kota Makassar dapat membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik, mengurangi volume sampah, serta mewujudkan lingkungan perkotaan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending