Connect with us

DISKOMINFO LUWU TIMUR

BPBD dan PMI Luwu Timur Gelar Simulasi Bencana untuk Siswa SLB, Perkuat Kesiapsiagaan Inklusif

Published

on

KITASULSEL–LUWUTIMUR — Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Luwu Timur terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, termasuk bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas.

Upaya tersebut diwujudkan melalui simulasi kebencanaan yang melibatkan orang tua dan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunas Harapan Bangsa, Kecamatan Tomoni, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dengan Yayasan Save the Children Indonesia dan Yayasan Celosia Marennu Indonesia.

Simulasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian hari kedua Program Inisiatif Ketangguhan dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Anak dan Pemuda.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan, ketangguhan dalam menghadapi bencana, serta kemandirian anak dan pemuda penyandang disabilitas.

Siswa SLB Diberi Edukasi dan Praktik Evakuasi

Dalam kegiatan tersebut, BPBD dan PMI Luwu Timur memberikan edukasi sekaligus praktik langsung mengenai berbagai langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi situasi darurat.

Materi yang diberikan mencakup pengenalan potensi risiko bencana, pertolongan pertama, prosedur evakuasi yang aman, hingga praktik penyelamatan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.

BACA JUGA  Pemkab Lutim Hadirkan Dokter Spesialis di Bantilang dan Mahalona, Warga Kini Tak Perlu Jauh Berobat

Para siswa tidak hanya mendapatkan penjelasan secara teori, tetapi juga diajak memahami langkah yang harus dilakukan ketika terjadi kondisi darurat di lingkungan sekolah.

Guru dan tenaga kependidikan turut dilibatkan dalam simulasi tersebut. Keterlibatan seluruh unsur sekolah dinilai penting agar proses evakuasi dapat dilakukan secara cepat, tepat, terkoordinasi, sekaligus memperhatikan kebutuhan setiap peserta didik.

Analis Kebencanaan BPBD Kabupaten Luwu Timur, Bannawati, mengatakan keterlibatan kelompok rentan dalam edukasi dan simulasi kebencanaan merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.

Menurutnya, siswa SLB perlu mendapatkan pembekalan mengenai pengetahuan dan keterampilan dasar kebencanaan agar mampu memahami tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.

“SLB adalah kelompok rentan yang nantinya diharapkan dapat melakukan evakuasi secara mandiri. Simulasi ini mengedukasi mereka agar memahami apa yang harus dilakukan apabila terjadi bencana,” ujarnya.

Dorong Kemandirian Penyandang Disabilitas

BACA JUGA  Bupati dan DPRD Luwu Timur Sepakati Perubahan KUA-PPAS APBD 2026

Kegiatan simulasi juga menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk mengenali potensi bahaya di sekitar mereka.

Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik membangun kesiapan sejak dini, termasuk mengetahui kapan harus menyelamatkan diri, bagaimana meminta bantuan, serta mengikuti prosedur evakuasi yang telah disiapkan.

Pendekatan yang diterapkan dalam kegiatan ini menekankan prinsip inklusif. Artinya, proses edukasi dan simulasi disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tetap dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses peningkatan kapasitas kebencanaan.

Tidak hanya siswa, orang tua, guru, dan tenaga kependidikan juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pendampingan serta koordinasi dalam situasi darurat.

Keterlibatan orang tua menjadi bagian penting karena kesiapsiagaan terhadap bencana tidak hanya perlu dibangun di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

Perkuat Satuan Pendidikan Aman Bencana

Kolaborasi antara Pemkab Luwu Timur, BPBD, PMI, Save the Children Indonesia, dan Yayasan Celosia Marennu Indonesia diharapkan dapat memperkuat penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di lingkungan sekolah.

BACA JUGA  Sekda Luwu Timur Pimpin Upacara Hari Otonomi Daerah ke-30, Tekankan Sinergi dan Pelayanan Publik

Melalui program tersebut, sekolah didorong memiliki pemahaman dan kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Lingkungan pendidikan yang aman tidak hanya berkaitan dengan sarana dan prasarana, tetapi juga kesiapan seluruh warga sekolah dalam melakukan pencegahan, mitigasi, evakuasi, dan respons ketika bencana terjadi.

Bagi sekolah luar biasa, kesiapsiagaan tersebut memiliki tantangan tersendiri karena setiap peserta didik dapat memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, prosedur evakuasi perlu memperhatikan kondisi dan kemampuan masing-masing siswa.

Simulasi yang digelar di SLB Tunas Harapan Bangsa menjadi bagian dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan tersebut.

Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, lembaga sosial, sekolah, orang tua, dan masyarakat diharapkan terus diperkuat agar edukasi kebencanaan dapat menjangkau seluruh kelompok masyarakat.

Dengan kesiapsiagaan yang dibangun secara inklusif, setiap peserta didik diharapkan memiliki kesempatan yang sama untuk memahami risiko bencana dan mengambil tindakan penyelamatan yang tepat ketika situasi darurat terjadi.

 

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending