Connect with us

Tak Berkategori

Film IBUKU Ukir Prestasi di Busan, Kisah Ibu dan Anak Tembus Panggung Internasional

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR – Film Indonesia IBUKU (My Mother) meraih penghargaan Busan Award Special Jury Prize pada ajang Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 di Korea Selatan. Penghargaan yang diumumkan pada 15 Oktober 2026 itu menjadi pengakuan internasional bagi karya sutradara Eddie Cahyono yang mengangkat persoalan keluarga, penderitaan perempuan, dan realitas pekerja migran Indonesia.

Film yang dibintangi Christine Hakim dan Ayushita Nugraha tersebut bersaing dalam kategori Main Competition, salah satu bagian utama festival. Penghargaan ini diberikan oleh dewan juri sebagai bentuk apresiasi terhadap pencapaian sinematik sebuah film. Sementara itu, penghargaan film terbaik diraih Midday Meal karya sutradara Iran, Majid Majidi.

Di balik pencapaian tersebut, IBUKU menyimpan perjalanan produksi yang panjang. Eddie Cahyono berupaya mewujudkan film ini selama sekitar 11 tahun, sejak proyeknya dipresentasikan dalam Asian Project Market pada 2015 hingga akhirnya selesai dan tampil dalam kompetisi internasional.

BACA JUGA  TP PKK Sidrap Luncurkan Gerakan Assikolaki, Terobosan Atasi Anak Putus Sekolah

Saat menerima penghargaan, Eddie menyampaikan apresiasi kepada festival dan pihak-pihak yang membantu merealisasikan film tersebut. Ia juga mendedikasikan karya itu kepada para pekerja migran Indonesia beserta keluarga yang harus menghadapi perpisahan, tekanan ekonomi, dan persoalan kehidupan di negeri orang.

Cerita IBUKU berpusat pada Sumiati, seorang ibu yang diperankan Christine Hakim. Ia berusaha menemui putrinya, Sri, yang diperankan Ayushita, di Arab Saudi setelah sang anak menghadapi ancaman hukuman mati dalam kasus pembunuhan.

Perjuangan Sumiati bukan sekadar perjalanan untuk menjenguk anaknya. Ia juga harus berhadapan dengan luka masa lalu, hubungan ibu dan anak yang rumit, serta kenyataan pahit yang dialami perempuan dalam situasi rentan. Melalui konflik tersebut, film ini membawa persoalan pekerja migran ke ranah yang lebih personal: hubungan keluarga yang tetap diuji meski jarak dan keadaan memisahkan mereka.

BACA JUGA  Gubernur Sulsel Dijadwalkan Lantik PPPK Tahap II dan Paruh Waktu pada 17 November 2025

Pendekatan cerita tersebut membuat IBUKU tidak hanya bertumpu pada drama keluarga, tetapi juga menyentuh isu kekerasan terhadap perempuan, ketimpangan sosial, dan kerentanan pekerja migran. Persoalan yang sering hadir dalam pemberitaan itu diterjemahkan ke dalam pengalaman emosional tokoh-tokohnya.

Penghargaan di Busan memperkuat posisi IBUKU dalam percakapan perfilman internasional. Film ini juga menjadi salah satu dari dua karya Indonesia yang masuk kompetisi utama BIFF 2026, bersama Laut Bercerita garapan Yosep Anggi Noen.

Meski demikian, penghargaan khusus juri tersebut berbeda dari gelar film terbaik. Nilai penting pencapaian IBUKU terletak pada pengakuan terhadap karya Indonesia di tengah persaingan film dari berbagai negara, sekaligus terbukanya ruang bagi cerita tentang pekerja migran dan keluarga mereka untuk menjangkau penonton internasional.

BACA JUGA  Bupati Luwu Timur Kembali Berangkatkan 6 ASN Umroh Gratis, Apresiasi untuk yang Istiqomah Shalat Berjamaah

Hingga pengumuman penghargaan tersebut, jadwal penayangan IBUKU di bioskop Indonesia belum diumumkan secara resmi. Kehadirannya di Busan menjadi langkah penting bagi perjalanan film tersebut, sekaligus membawa kisah tentang seorang ibu dan anak ke panggung perfilman dunia.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending