Connect with us

Sulsel Keren

15 Makam Bersejarah Islam di Makassar, Jejak Ulama dan Kerajaan yang Menyimpan Kisah Panjang

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Kota Makassar tidak hanya dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan di kawasan timur Indonesia. Di balik perkembangan kotanya, tersimpan jejak panjang penyebaran Islam yang dapat ditelusuri melalui sejumlah kompleks makam kuno peninggalan ulama, bangsawan, dan tokoh kerajaan.

Sebagian situs tersebut memiliki usia ratusan tahun. Bentuk makam, susunan batu, cungkup, hingga inskripsi beraksara Arab menjadi bukti perjalanan sejarah Islam sekaligus memperlihatkan perpaduan tradisi lokal dengan kebudayaan Islam.

Berdasarkan buku Kepurbakalaan Islam di Sulawesi Selatan yang diterbitkan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar pada 2009, terdapat sejumlah kompleks makam bersejarah yang tersebar di berbagai kecamatan di Kota Makassar.

Berikut 15 di antaranya.

1. Kompleks Makam Datuk ri Bandang

Berada di Jalan Sinassara, Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo. Kompleks ini berkaitan dengan Abdul Makmur atau Datuk ri Bandang, salah satu ulama yang berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Gowa dan Tallo.

2. Kompleks Makam Raja-Raja Tallo

Terletak di Jalan Sultan Abdullah, Kecamatan Tallo. Kompleks ini menjadi tempat pemakaman para penguasa Tallo sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. Keberadaannya menjadi salah satu bukti penting perkembangan kerajaan Islam di Makassar.

3. Kompleks Makam Bontoala

Berada di Jalan Kandea, Kelurahan Wajo Baru, Kecamatan Bontoala. Dalam inventarisasi tahun 2009, kompleks ini tercatat memiliki sekitar 135 makam dengan beragam bentuk, termasuk makam bercungkup kubah dan makam berbahan batu padas.

BACA JUGA  Time Travel ke Zaman Prasejarah! Sumpang Bita Pangkep Simpan Cerita Ribuan Tahun di Dalam Gua

4. Kompleks Makam Pangeran Diponegoro

Terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo. Di kompleks ini dimakamkan Pangeran Diponegoro bersama istri, keturunan, dan sejumlah pengikutnya setelah menjalani pengasingan di Makassar. Pangeran Diponegoro wafat pada 8 Januari 1855.

5. Kompleks Makam Karaeng Katinting

Berada di Kelurahan Tallo Tua, Kecamatan Tallo. Kompleks ini memiliki sekitar 15 makam. Salah satu ciri yang menonjol adalah makam Karaeng Katinting yang menggunakan batu pahatan berbentuk balok.

6. Kompleks Makam Ibu Syekh Yusuf

Terletak di Jalan Sinassara, Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo. Situs ini dikenal sebagai tempat pemakaman ibunda Syekh Yusuf Al-Makassari. Bentuk bangunan makamnya memiliki karakter arsitektur yang berbeda dari makam kuno lainnya.

7. Kompleks Makam Abdullah Daeng Tompo

Berada di Kelurahan Panampu, Kecamatan Tallo. Kompleks ini memiliki tiga bangunan cungkup berbentuk kubah. Salah satu makam yang tercatat di dalamnya adalah Abdullah Daeng Patompo, dengan inskripsi Arab yang memuat nama dan tahun wafat.

8. Kompleks Makam Baba Ali

Berada di Pulau Barang Lompo, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, yang dalam administrasi lama tercatat sebagai bagian Kecamatan Ujung Tanah. Makam ini memiliki bentuk persegi panjang dengan dasar berlapis marmer putih dan dua nisan kayu.

BACA JUGA  Rasakan Sensasi Senja yang Beda: Sailing Elegan di Atas Kapal Pinisi Bersama Sahabat Pinisi Makassar

9. Kompleks Makam Tompo Balang

Terletak di Jalan Bayam, Kelurahan Wajo Baru, Kecamatan Bontoala. Di dalamnya terdapat tiga makam yang dikaitkan dengan tokoh penyebaran Islam dan keluarga bangsawan. Salah satu nama yang tercatat adalah Syekh Abdul Kadir Jaelani Matinroe ri Bontoala.

10. Kompleks Makam Yunus Ali Afandi

Berada di kawasan Kelurahan Wajo Baru, Kecamatan Bontoala. Situs ini masuk dalam inventaris kepurbakalaan Islam Makassar, meskipun informasi mengenai riwayat tokoh dan kondisi terkini kompleksnya masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

11. Kompleks Makam Datuk Mandar

Berada di kawasan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya. Kompleks ini memiliki sekitar 20 makam dengan karakter batu nisan dan bentuk jirat kuno. Tokoh yang dikenal sebagai Datuk Mandar disebut memiliki peran sebagai penghulu adat dan penyebar ajaran Islam di wilayah tersebut.

12. Kompleks Makam Saladong

Terletak di kawasan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya. Saladong dikenal dalam catatan sejarah lokal sebagai tokoh pemberani yang memiliki hubungan keluarga dengan Karaeng Loe ri Bira dan pernah diangkat sebagai panglima perang.

13. Kompleks Makam Sultan Wahid

Berada di kawasan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, sekitar area Baddoka. Sultan Wahid disebut sebagai keturunan Karaeng Loe ri Bira yang bersama Sultan Awaluddin dari Tallo berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Bira.

14. Kompleks Makam Dampang Bira

Terletak di kawasan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea. Dampang Bira dikenal sebagai penerus Sultan Wahid dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah Bira. Catatan kepurbakalaan menyebutkan sebagian batu makamnya telah berserakan sehingga bentuk aslinya tidak lagi terlihat utuh.

BACA JUGA  Tren Pernikahan 2026: Anak Muda Bugis-Makassar Padukan Adat Leluhur dengan Konsep Modern

15. Kompleks Makam Lo’mo ri Antang

Berada di Jalan Lo’mo ri Antang, Kelurahan Antang, Kecamatan Panakkukang. Tokoh Lo’mo ri Antang disebut sebagai kawan seperguruan Syekh Yusuf Al-Makassari. Namun, bentuk makamnya telah mengalami perubahan akibat pemugaran.

Warisan Sejarah yang Membutuhkan Perhatian

Keberadaan makam-makam tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Islam di Makassar berkembang melalui banyak jalur. Peran ulama, keluarga kerajaan, tokoh adat, dan jaringan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses penyebarannya.

Tidak semua situs memiliki kondisi yang sama. Sebagian masih memperlihatkan struktur makam kuno, sementara beberapa lainnya telah mengalami perubahan bentuk, pemugaran, bahkan kehilangan sebagian ciri arkeologisnya.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pelestarian sejarah tidak cukup dilakukan dengan menjaga bangunan fisik. Dokumentasi, penelitian, pemasangan informasi sejarah, serta pengenalan kepada generasi muda juga diperlukan agar kisah para tokoh yang dimakamkan di dalamnya tidak hilang dari ingatan masyarakat.

Bagi Makassar, makam-makam bersejarah tersebut bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. Di dalamnya tersimpan jejak perjalanan kota, perkembangan Islam, serta hubungan antara tradisi lokal dan sejarah kerajaan yang membentuk identitas masyarakat hingga hari ini.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending