Connect with us

Kriminal

Anak Terlibat Perang Kelompok dan Geng Motor, Sekolah dan Orangtua Dituntut Lebih Peka

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Maraknya perang kelompok dan aksi geng motor yang melibatkan anak di bawah umur di Makassar menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan dan keluarga. Persoalan ini tidak cukup diselesaikan melalui penindakan aparat, tetapi juga membutuhkan pengawasan serta pembinaan anak sejak dari rumah dan sekolah.

Keterlibatan remaja dalam kekerasan jalanan memperlihatkan pentingnya perhatian terhadap lingkungan pergaulan, aktivitas di luar sekolah, hingga penggunaan media sosial. Anak yang seharusnya menghabiskan waktu untuk belajar dan mengembangkan potensi justru berisiko terseret dalam konflik antarkelompok.

Di tengah persoalan tersebut, peran orangtua dan sekolah menjadi semakin penting. Pembentukan karakter, kedisiplinan, serta kemampuan anak mengendalikan diri perlu dibangun melalui pendampingan yang berkelanjutan.

BACA JUGA  Sarung Tangan Pintar, Unismuh Makassar Kembangkan Teknologi untuk Siswa Tunarungu

Salah satu upaya tersebut dilakukan SMP Unismuh Makassar melalui pertemuan evaluasi pembelajaran tengah semester ganjil tahun ajaran 2026/2027 bersama guru dan orangtua siswa pada Ahad, 1 November 2026.

Pertemuan itu tidak hanya membahas perkembangan akademik, tetapi juga kedisiplinan dan perilaku siswa. Kebiasaan datang terlambat menjadi salah satu perhatian karena aktivitas sekolah telah dimulai pukul 07.00 Wita.

Wakil Kepala SMP Unismuh Makassar Bidang Kesiswaan, Muh Ikbal, menjelaskan bahwa pembiasaan disiplin membutuhkan dukungan keluarga. Kebiasaan positif yang dibangun di sekolah harus mendapat penguatan melalui pendampingan orangtua di rumah.

Kepala SMP Unismuh Makassar, Husain Abd Rahman, juga menekankan bahwa tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan anak tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan biaya sekolah.

BACA JUGA  Polrestabes Ungkap Jaringan Narkoba Internasional

Orangtua perlu terlibat dalam memantau perkembangan akademik, perilaku, dan lingkungan pergaulan anak. Komunikasi dengan guru juga diperlukan agar persoalan yang muncul dapat diketahui dan ditangani lebih awal.

Pendekatan tersebut menjadi relevan di tengah maraknya persoalan sosial yang melibatkan remaja. Pengawasan anak tidak cukup hanya dilakukan saat mereka berada di lingkungan sekolah, tetapi juga harus mencakup aktivitas setelah jam belajar, pertemanan, dan interaksi di ruang digital.

Melalui dialog antara wali kelas dan orangtua, SMP Unismuh Makassar berupaya membangun komunikasi yang lebih terbuka mengenai perkembangan siswa. Sekolah juga menyediakan survei daring untuk mengevaluasi

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending