Connect with us

DISKOMINFO LUWU TIMUR

Sanitasi Bersih Jadi Kunci Kesehatan Warga Luwu Timur, Perubahan Dimulai dari Rumah

Published

on

KITASULSEL–MALILI — Persoalan sanitasi yang diabaikan dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Sampah yang tidak dikelola, lingkungan yang kotor, hingga penyajian makanan yang tidak higienis merupakan persoalan sehari-hari yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi keluarga dan anak-anak.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terus memperkuat penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat mulai dari rumah tangga, lingkungan permukiman hingga tingkat desa.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terus mendorong penerapan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) agar perilaku hidup bersih dan sehat tidak berhenti sebagai program pemerintah, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh dari rumah tangga dan lingkungan masyarakat.

Upaya tersebut kembali diperkuat menjelang verifikasi lapangan STBM Award 2026 oleh Tim Kementerian Kesehatan RI. Persiapan dibahas dalam rapat yang digelar Dinas Kesehatan Luwu Timur di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Malili, Kamis (24/9/2026).

Rapat dipimpin Wakil Bupati Luwu Timur, Hj. Puspawati Husler, dan dihadiri jajaran organisasi perangkat daerah terkait, para camat, kepala puskesmas, kepala sekolah, kepala desa, serta Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Luwu Timur, Alimuddin Bachtiar.

BACA JUGA  Delapan ASN Luwu Timur Resmi Jadi Komponen Cadangan TNI AD, Siap Perkuat Bela Negara

Bagi pemerintah daerah, momentum verifikasi tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana praktik sanitasi telah diterapkan masyarakat, sekaligus memperkuat pembinaan agar kebiasaan hidup bersih dapat dilakukan secara konsisten.

Wakil Bupati Luwu Timur, Hj. Puspawati Husler, menegaskan bahwa STBM tidak boleh dipandang sebatas persiapan menghadapi penilaian. Lebih penting dari itu adalah memastikan masyarakat memperoleh lingkungan yang sehat dan memiliki kebiasaan yang dapat mencegah berbagai persoalan kesehatan.

“Yang paling penting bukan hanya bagaimana kita menghadapi verifikasi, tetapi bagaimana kebiasaan hidup bersih dan sehat ini benar-benar menjadi budaya di masyarakat,” ujarnya.

Menurut Puspawati, sanitasi merupakan urusan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, keberhasilannya tidak dapat hanya mengandalkan Dinas Kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan pemerintah kecamatan dan desa, sekolah, puskesmas, serta masyarakat.

Penerapan sanitasi yang baik juga perlu dimulai dari hal-hal sederhana. Kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah rumah tangga, keamanan makanan dan kebiasaan menjaga kebersihan menjadi bagian dari perilaku yang secara langsung berkaitan dengan kesehatan keluarga.

Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Luwu Timur, Alimuddin Bachtiar, mengatakan perhatian terhadap sanitasi harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk pada kebiasaan sehari-hari yang terkadang dianggap sepele.

BACA JUGA  Bupati Luwu Timur Tinjau Kerusakan Tanggul TPI Turunan Bajo, Instruksikan Perbaikan Segera

Ia mencontohkan penyajian makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Makanan yang akan dikonsumsi anak harus ditempatkan pada tempat yang bersih dan layak.

“Untuk penerima MBG, makanan jangan diletakkan di lantai, tetapi di atas meja. Hal-hal sederhana seperti ini juga perlu menjadi perhatian bersama,” jelasnya.

Menurut Alimuddin, kebersihan makanan merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

Persoalan sanitasi juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat mengelola sampah. Pemerintah mendorong sampah organik tidak seluruhnya berakhir sebagai timbulan sampah, tetapi dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan.

Langkah tersebut dapat dimulai dari tingkat rumah tangga dengan memilah sampah dan mengolah sampah organik secara sederhana. Selain mengurangi volume sampah, kebiasaan tersebut dapat menciptakan lingkungan permukiman yang lebih bersih.

Pemerintah desa juga diminta mengambil peran lebih aktif dalam mengedukasi masyarakat. Sosialisasi STBM diharapkan tidak hanya dilakukan menjelang verifikasi, tetapi menjadi kegiatan pembinaan yang terus berjalan di lingkungan warga.

BACA JUGA  Bupati Luwu Timur Hadiri Musyawarah Adat Padoe, Tegaskan Dukungan Pelestarian Budaya

Alimuddin meminta dukungan pemerintah desa melalui berbagai media edukasi, termasuk pemasangan spanduk dan umbul-umbul STBM di lingkungan kantor desa sebagai pengingat sekaligus sarana kampanye kepada masyarakat.

Namun, ukuran keberhasilan STBM pada akhirnya tidak hanya terlihat dari kelengkapan fasilitas atau atribut sosialisasi. Perubahan perilaku di tingkat rumah tangga menjadi bagian paling penting dari gerakan sanitasi.

“Yang kita harapkan adalah perubahan perilaku. Karena itu, pembinaan ke rumah tangga harus terus berjalan dan dilakukan secara konsisten,” kata Alimuddin.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur berharap gerakan sanitasi dapat terus berkembang menjadi kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan kesehatan keluarga.

Dengan sanitasi yang baik, pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, keamanan makanan yang diperhatikan, serta kebiasaan hidup bersih yang diterapkan sejak dari rumah, upaya menjaga kesehatan masyarakat dapat dilakukan sebelum persoalan kesehatan muncul.

STBM Award 2026 pun ditempatkan sebagai salah satu momentum evaluasi dan penguatan. Yang lebih penting, gerakan sanitasi tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Luwu Timur melalui lingkungan yang lebih bersih, sehat dan layak dihuni.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending