Connect with us

Sulsel Keren

Pemmali Bugis-Makassar Ternyata Menyimpan Pesan Pendidikan Karakter

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR –“Jangan duduk di atas bantal, nanti bisulan.” “Jangan menyanyi saat memasak, nanti sulit mendapat jodoh.” Kalimat semacam ini mungkin masih akrab di telinga sebagian masyarakat Bugis-Makassar. Sejak kecil, anak-anak kerap mendengar larangan tersebut dari orang tua, disertai satu alasan sederhana: pemmali.

Di balik pantangan yang diwariskan secara turun-temurun itu, tersimpan cara masyarakat leluhur menyampaikan nasihat, membentuk perilaku, dan menjaga tata krama tanpa harus selalu menggunakan teguran keras.

Pemmali merupakan tradisi lisan yang dikenal dalam masyarakat Bugis, sedangkan masyarakat Makassar juga mengenal istilah kasipalli atau pamali. Bentuknya beragam, mulai dari larangan dalam aktivitas sehari-hari hingga aturan yang berkaitan dengan etika, sikap, dan kepercayaan masyarakat.

Penelitian mengenai pemmali dalam masyarakat Bugis-Makassar menunjukkan bahwa pantangan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai larangan. Di dalamnya terdapat pesan tentang penghormatan, tanggung jawab, serta perilaku yang dianggap pantas dalam kehidupan bersama.

BACA JUGA  Sulsel Juara Umum Kejurnas Karate Gojukai 2026, 44 Emas Bawa Pulang Gelar Bergengsi

Salah satu kajian yang diterbitkan pada 2026 dalam PPSDP International Journal of Education meneliti pemali pada masyarakat Makassar-Gowa. Penelitian itu mengidentifikasi lima kelompok pantangan, yakni yang berkaitan dengan keberuntungan, tempat sakral, sopan santun dan etika sosial, sikap, serta kepercayaan keagamaan atau waktu tertentu.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pemali dapat berfungsi sebagai pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Nilai-nilai budaya disampaikan melalui ungkapan sederhana yang mudah diingat dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Contohnya, larangan duduk di atas bantal dapat dipahami sebagai cara mengajarkan anak menghormati barang yang digunakan untuk tidur. Sementara larangan bernyanyi ketika memasak dapat menjadi bagian dari upaya orang tua mengarahkan anak agar lebih memperhatikan aktivitasnya di dapur.

BACA JUGA  Rasakan Sensasi Senja yang Beda: Sailing Elegan di Atas Kapal Pinisi Bersama Sahabat Pinisi Makassar

Namun, penafsiran makna setiap pemmali perlu memperhatikan konteks keluarga dan daerah asalnya. Tidak semua pantangan memiliki penjelasan yang sama, dan sebagian memang berkaitan dengan kepercayaan yang diwariskan masyarakat.

Di sinilah pemmali menarik untuk dipahami kembali. Sesuatu yang ketika kecil dianggap menakutkan atau sekadar larangan, setelah ditelusuri bisa mengandung pesan sosial yang lebih luas. Sebagian mengajarkan kesopanan, sebagian mengingatkan tentang kehati-hatian, sementara yang lain mencerminkan sistem kepercayaan masyarakat pada zamannya.

Meski demikian, pesan moral di balik pemmali perlu dibedakan dari klaim sebab-akibat yang belum terbukti secara ilmiah. Larangan tertentu mungkin memiliki alasan praktis yang masuk akal, tetapi ancaman kesialan atau akibat supernatural tidak dapat diperlakukan sebagai fakta ilmiah hanya karena diwariskan turun-temurun.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana tradisi ini diperkenalkan kepada generasi muda tanpa kehilangan konteksnya. Pemmali tidak cukup hanya diulang sebagai larangan. Makna, asal-usul, dan nilai yang terkandung di dalamnya perlu dijelaskan agar anak-anak memahami alasan sebuah nasihat disampaikan.

BACA JUGA  Dari Tanah Celebes untuk Indonesia: Perjuangan Berdarah Rakyat Sulawesi Selatan Mempertahankan Kemerdekaan

Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi keluarga, sekolah, dan pegiat budaya untuk mendokumentasikan berbagai ungkapan pemmali beserta penjelasan dari masyarakat yang masih mempraktikkannya. Dengan begitu, warisan lisan ini tidak hanya bertahan sebagai cerita masa kecil, tetapi juga dapat dipelajari sebagai bagian dari kekayaan budaya Sulawesi Selatan.

Pada akhirnya, pemmali memperlihatkan bagaimana orang-orang terdahulu menggunakan bahasa sehari-hari untuk menanamkan nilai kehidupan. Di tengah perubahan zaman, tradisi ini tetap relevan untuk dikaji—bukan dengan menerima semua pantangan secara harfiah, melainkan dengan memahami pesan budaya, menilai alasannya secara kritis, dan menjaga nilai baik yang masih berguna bagi kehidupan sekarang.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending