Connect with us

Nasional

Benteng Rotterdam, Jejak Asli Benteng Ujung Pandang dalam Arsip Sejarah Nusantara

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Berdiri megah di pesisir barat Kota Makassar, Benteng Rotterdam menjadi salah satu saksi paling penting perjalanan sejarah Indonesia. Jauh sebelum dikenal sebagai Fort Rotterdam, benteng ini bernama Benteng Ujung Pandang, benteng pertahanan milik Kesultanan Gowa yang jejak sejarahnya tercatat dalam naskah Lontara’ Patturioloang, Lontara’ Bilang, arsip Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dokumentasi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV), hingga inventaris Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Seluruh arsip tersebut memperlihatkan bagaimana benteng ini mengalami perubahan fungsi dari benteng kerajaan menjadi pusat pemerintahan kolonial, penjara politik, hingga cagar budaya nasional.

Dibangun pada Masa Kejayaan Kesultanan Gowa

Catatan dalam Lontara’ Patturioloang dan Lontara’ Bilang menyebutkan Benteng Ujung Pandang mulai dibangun pada 1545 atas perintah Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna. Pembangunan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Karaeng Tunipalangga Ulaweng, seiring berkembangnya Kerajaan Gowa sebagai kekuatan maritim terbesar di kawasan timur Nusantara.

Benteng ini dikenal pula sebagai Benteng Panyyua atau Benteng Penyu karena bentuk keseluruhan kompleksnya menyerupai seekor penyu yang menghadap ke laut. Dalam filosofi masyarakat Gowa-Tallo, penyu melambangkan kekuatan yang mampu bertahan di darat maupun di laut, mencerminkan karakter kerajaan yang menguasai wilayah daratan sekaligus jalur perdagangan maritim.

BACA JUGA  Mendes Yandri Pastikan Kopdes Merah Putih Tidak Matikan Warung Kecil dan BUMDes

Dari Benteng Tanah Menjadi Benteng Batu

Pada tahap awal, dinding Benteng Ujung Pandang dibangun menggunakan tanah liat yang dipadatkan. Berdasarkan catatan Lontara’ Bilang, sekitar 1634, Sultan Alauddin memerintahkan penguatan seluruh struktur benteng menggunakan batu padas dan batu karst yang didatangkan dari kawasan Maros. Penguatan tersebut dilakukan untuk menghadapi perkembangan teknologi persenjataan dan meriam bangsa Eropa yang mulai memasuki Nusantara.

Bagian Penting Sistem Pertahanan Gowa

Arsip sejarah Kesultanan Gowa menjelaskan bahwa Benteng Ujung Pandang merupakan bagian dari jaringan benteng yang melindungi ibu kota kerajaan di Somba Opu. Benteng ini mengawasi lalu lintas pelayaran di Selat Makassar sekaligus menjadi benteng pertahanan terhadap ancaman dari laut. Pada masa itu, pelabuhan Makassar menjadi salah satu pusat perdagangan internasasional yang menghubungkan Maluku, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Malaya hingga kawasan Asia lainnya.

Perang Makassar dan Perjanjian Bongaya

Perubahan terbesar dalam sejarah benteng terjadi saat Perang Makassar (1666–1669). Kesultanan Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin menghadapi VOC di bawah pimpinan Cornelis Janzoon Speelman yang didukung pasukan Bone pimpinan Arung Palakka.

Kekalahan Gowa membuat Sultan Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Dokumen asli perjanjian yang tersimpan dalam arsip kolonial Belanda dan salinannya di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat bahwa salah satu isi perjanjian mewajibkan Kesultanan Gowa menyerahkan Benteng Ujung Pandang kepada VOC. Peristiwa tersebut menjadi awal berakhirnya dominasi maritim Gowa di kawasan timur Nusantara.

BACA JUGA  Temui Prabowo di Hambalang, Bos Pertamina Laporkan Perkembangan B50 dan Persiapan Bioetanol

Lahirnya Nama Fort Rotterdam

Setelah benteng dikuasai VOC, Cornelis Janzoon Speelman memerintahkan pemugaran besar-besaran dengan konsep benteng militer bergaya Eropa. Benteng kemudian diberi nama Fort Rotterdam, diambil dari nama kota kelahiran Speelman di Belanda.

Sejak saat itu, fungsi benteng berubah menjadi pusat administrasi pemerintahan VOC di Indonesia Timur, markas militer, gudang penyimpanan rempah-rempah, pusat perdagangan, hingga penjara bagi tahanan politik.

Lima Bastion Pertahanan

Inventaris cagar budaya mencatat Fort Rotterdam memiliki lima bastion utama yang hingga kini masih dapat dikenali, yaitu:

  • Bastion Bone
  • Bastion Bacan
  • Bastion Buton
  • Bastion Mandarsyah
  • Bastion Amboina

Kelima bastion tersebut menjadi bagian penting dari sistem pertahanan benteng pada masa VOC.

Tempat Pengasingan Pangeran Diponegoro

Dokumen pengasingan politik Hindia Belanda yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat Fort Rotterdam sebagai salah satu penjara militer terpenting di Indonesia Timur.

Pada 1833, Pangeran Diponegoro dipindahkan dari Manado ke Makassar untuk menjalani masa pengasingan. Selama sekitar 22 tahun, beliau menetap di dalam kompleks benteng hingga wafat pada 8 Januari 1855. Ruang tempat beliau menjalani pengasingan masih menjadi bagian dari kompleks Fort Rotterdam hingga sekarang.

Masa Pendudukan Jepang dan Pasca Kemerdekaan

Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942–1945, benteng kembali difungsikan sebagai markas militer, pusat administrasi, kamp tawanan perang, serta fasilitas penelitian.

BACA JUGA  Kementan Siapkan Wajo dan Sidrap untuk Pusat Peternakan Sapi Perah

Setelah Indonesia merdeka, kompleks benteng sempat digunakan oleh berbagai instansi militer sebelum akhirnya dipugar secara menyeluruh pada awal dekade 1970-an.

Pada 27 April 1977, pemerintah menetapkan Fort Rotterdam sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan. Di dalam kompleks benteng berdiri Museum La Galigo, yang menyimpan ribuan koleksi arkeologi, sejarah, etnografi, numismatik, keramik, hingga naskah kuno dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Warisan Sejarah Nusantara

Lebih dari empat abad sejak pertama kali dibangun, Benteng Rotterdam tetap menjadi salah satu peninggalan sejarah paling utuh di Indonesia. Dari benteng pertahanan Kesultanan Gowa, pusat kekuasaan VOC, tempat pengasingan Pangeran Diponegoro, hingga pusat pelestarian budaya, setiap bagian bangunannya menjadi saksi perubahan besar dalam perjalanan sejarah Nusantara.

Sumber Arsip dan Referensi:

  • Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
  • Lontara’ Patturioloang Kerajaan Gowa.
  • Lontara’ Bilang Kesultanan Gowa-Tallo.
  • Verdrag van Bongaja (Naskah Perjanjian Bongaya), 1667.
  • Besluiten van den Gouverneur-Generaal Hindia Belanda.
  • Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
  • Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
  • Museum La Galigo, Benteng Rotterdam.
  • Jurnal Candrasangkala Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
  • Jurnal Rihlah UIN Alauddin Makassar.
  • Phinisi Integration Review, Universitas Negeri Makassar.
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending