Sulsel Keren
Pinisi Bukan Sekadar Kapal, Festival di Bulukumba Uji Keseriusan Merawat Warisan Maritim Sulsel

KITASULSEL — BULUKUMBA – Kapal Pinisi bukan sekadar simbol kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Di balik bentuknya yang khas, tersimpan pengetahuan pembuatan kapal, keterampilan para pengrajin, serta tradisi maritim yang diwariskan lintas generasi.
Warisan itulah yang kembali menjadi sorotan melalui Festival Pinisi XVI 2026, yang berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di Kabupaten Bulukumba.
Festival tahunan ini mengangkat identitas Bulukumba sebagai Butta Panrita Lopi, daerah yang dikenal dengan tradisi pembuatan kapal Pinisi. Kegiatan tersebut juga masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 Kementerian Pariwisata.
Namun, di balik kemeriahan festival dan potensi pariwisata, ada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana memastikan tradisi pembuatan kapal Pinisi tetap hidup, bukan hanya dikenal sebagai ikon wisata.
Tradisi Maritim yang Mendunia
Pinisi memiliki posisi penting dalam sejarah pelayaran masyarakat Sulawesi Selatan. Kapal tradisional ini menjadi bukti kemampuan masyarakat pesisir dalam mengembangkan pengetahuan tentang konstruksi kapal, pemilihan bahan, dan teknik pengerjaan yang diwariskan melalui pengalaman langsung.
UNESCO menetapkan seni pembuatan kapal Pinisi sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2017. Pengakuan tersebut memperkuat posisi tradisi maritim Sulawesi Selatan dalam khazanah kebudayaan dunia.
Namun, pengakuan internasional bukanlah akhir dari upaya pelestarian. Keberlanjutan tradisi tetap bergantung pada keberadaan pengrajin, proses pewarisan keterampilan, serta kemampuan generasi muda untuk melanjutkan pengetahuan yang telah diwariskan para pendahulu.
Karena itu, festival budaya seharusnya tidak berhenti pada memperlihatkan kemegahan kapal. Pengunjung juga perlu memahami proses pembuatannya, nilai pengetahuan di balik setiap tahap pengerjaan, serta kehidupan masyarakat yang menjaga tradisi tersebut.
Annyorong Lopi hingga Karnaval Budaya
Festival Pinisi XVI menghadirkan sejumlah kegiatan yang menghubungkan tradisi maritim dengan kehidupan masyarakat modern.
Rangkaian kegiatan mencakup ritual adat, Annyorong Lopi atau prosesi mendorong kapal ke laut, karnaval budaya, pertunjukan seni, pameran produk kreatif, serta kegiatan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada 15 Oktober, agenda yang disiapkan meliputi ritual Andingingi di Desa Tambangan, Kecamatan Kajang, lomba katinting, pameran UMKM, dan karnaval budaya.
Pada 16 Oktober, prosesi Annyorong Lopi dijadwalkan berlangsung di kawasan Pantai Panrang Luhu, Desa Bira. Sementara itu, rangkaian festival pada 17 Oktober mencakup lomba perahu hias dan Pinisi Sailing.
Beragam kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal kebudayaan Bulukumba melalui pengalaman langsung, bukan hanya lewat dokumentasi atau cerita sejarah.
Jangan Sampai Budaya Hanya Menguntungkan Pariwisata
Pemerintah Kabupaten Bulukumba menjadikan Festival Pinisi sebagai agenda tahunan untuk memperkuat promosi pariwisata dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Pelaksanaan festival juga melibatkan pelaku UMKM, komunitas, seniman, sektor pariwisata, dan masyarakat pesisir. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, kegiatan ini diharapkan menciptakan perputaran ekonomi bagi pedagang, pengelola penginapan, penyedia transportasi, serta pelaku usaha lokal.
Meski demikian, keberhasilan festival tidak semestinya hanya diukur dari jumlah pengunjung atau transaksi selama acara berlangsung.
Pelestarian budaya membutuhkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat yang menjadi penjaganya. Para pengrajin kapal, pelaku tradisi, dan komunitas lokal perlu tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Pewarisan keterampilan kepada generasi muda juga menjadi faktor penting. Tanpa regenerasi pengrajin dan dukungan terhadap proses produksi tradisional, sebuah warisan budaya berisiko semakin dikenal sebagai atraksi, tetapi kehilangan orang-orang yang mampu mempertahankannya.
Festival Pinisi XVI menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali kekayaan maritim Sulawesi Selatan kepada masyarakat luas.
Tantangan sesungguhnya terletak pada langkah setelah festival berakhir: memastikan pengetahuan pembuatan kapal terus diwariskan, masyarakat lokal memperoleh manfaat ekonomi yang layak, dan Pinisi tetap hidup sebagai tradisi, bukan sekadar lambang kebanggaan daerah.
-
Nasional1 tahun agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
4 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
4 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoDuet Birokrat dan Legislatif, NasDem Usung Syahar-Kanaah di Pilkada Sidrap










You must be logged in to post a comment Login