Connect with us

Sulsel Keren

Mappadendang Bukan Sekadar Pesta Panen, Bunyi Lesung Menyimpan Warisan Kebersamaan Orang Bugis

Published

on

KITASULSEL — MAKASSAR — Di tengah perubahan zaman, tradisi Mappadendang menyimpan pesan yang lebih dalam daripada sekadar perayaan setelah panen padi. Bagi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, tradisi ini menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus ruang kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mappadendang dikenal sebagai pesta panen yang menggunakan lesung dan alu, alat penumbuk padi tradisional. Ketika alu dipukulkan secara bergantian ke lesung, tercipta irama khas yang menjadi daya tarik utama pertunjukan.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah panen raya, terutama ketika masyarakat memasuki musim kemarau. Pelaksanaannya melibatkan warga yang bergotong royong menyiapkan perlengkapan, pakaian adat, hingga kebutuhan untuk menjamu orang-orang yang hadir.

Bukan hanya menumbuk padi

BACA JUGA  Bukan Cuma Gua dan Air Terjun, TWA Sidrap Menyimpan Jejak Perjuangan yang Tak Banyak Diketahui

Mappadendang memiliki unsur seni yang menyatukan bunyi, gerakan, dan interaksi antarpemain. Dalam bentuk pelaksanaan yang dikenal di sejumlah komunitas Bugis, perempuan yang beraksi di dalam bilik baruga disebut Pakkindona, sedangkan laki-laki yang memainkan bagian ujung lesung disebut Pakkambona.

Bilik baruga umumnya dibuat dari bambu dan dapat dilengkapi anyaman tradisional. Pakaian adat, termasuk baju bodo, turut memperkuat identitas budaya dalam pertunjukan tersebut.

Irama yang dihasilkan bukan sekadar bunyi tumbukan. Para pemain harus menjaga ketepatan gerakan dan kekompakan agar alu yang dipukulkan menghasilkan irama teratur. Di sinilah kerja sama menjadi bagian penting dari pertunjukan.

Simbol syukur dan gotong royong

Mappadendang memperlihatkan eratnya hubungan masyarakat Bugis dengan kehidupan agraris. Panen tidak hanya dipandang sebagai hasil kerja individu, tetapi juga sebagai momentum untuk bersyukur dan mempererat hubungan sosial.

BACA JUGA  Lontara, Aksara Warisan Leluhur yang Menyimpan Arsip Kerajaan, Perang hingga Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Sejumlah kajian mengenai tradisi ini menyoroti nilai kebersamaan, gotong royong, silaturahmi, serta unsur seni yang hidup dalam pelaksanaannya. Persiapan dan perayaan menjadi kesempatan bagi warga untuk berkumpul, berinteraksi, dan mempertahankan hubungan antargenerasi.

Namun, pelaksanaan Mappadendang tidak selalu seragam di setiap daerah. Bentuk pertunjukan, tahapan, dan makna simboliknya dapat mengikuti kebiasaan serta kesepakatan masyarakat setempat.

Sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda

Mappadendang tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Sulawesi Selatan melalui penetapan pada 2016. Pencatatan tersebut menempatkannya dalam domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan.

Status itu menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menampilkan tradisi dalam acara seremonial. Pengetahuan tentang makna, perlengkapan, irama, dan keterlibatan masyarakat juga perlu diwariskan.

BACA JUGA  Dulu Cuma Bisa Lihat di TikTok, Kini Jajanan Viral Ini Muncul di Makassar

Generasi muda dapat mengenal Mappadendang melalui pendidikan budaya, dokumentasi, festival, serta keterlibatan langsung bersama pelaku tradisi. Dengan cara itu, mereka tidak hanya melihat pertunjukan, tetapi juga memahami nilai yang menyertainya.

Pada akhirnya, Mappadendang mengajarkan bahwa hasil panen bukan semata-mata soal berapa banyak padi yang berhasil dikumpulkan. Ada rasa syukur, kerja bersama, dan ikatan sosial yang ikut tumbuh di dalamnya. Selama nilai-nilai tersebut terus diwariskan, bunyi lesung Mappadendang akan tetap menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat Bugis.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending