Nasional
Konferensi ASEAN Bicara Perdamaian, Kurikulum Cinta Kemenag Dinilai Punya Peran Strategis
KITASULSEL—KAMBOJA — Pentingnya memberikan pemahaman agama yang benar sejak usia dini menjadi salah satu benang merah yang mengemuka dalam konferensi yang diikuti sejumlah negara ASEAN.
Pesan tersebut disampaikan oleh para pembicara dari berbagai negara, termasuk Kamboja, Brunei Darussalam, Filipina, Myanmar dan Vietnam. Mereka menilai pendidikan agama yang tepat memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai sekaligus mencegah munculnya konflik akibat kesalahpahaman dalam memahami ajaran agama.
Dalam forum tersebut, pendidikan agama tidak hanya dipandang sebagai proses transfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan karakter, toleransi dan sikap hidup berdampingan di tengah keberagaman.
Pemahaman tersebut, menurut para pembicara, idealnya dimulai dari lingkungan keluarga, kemudian diperkuat melalui pendidikan di sekolah dan madrasah.
Konsep itu dinilai memiliki relevansi dengan kebijakan yang telah dikembangkan Kementerian Agama RI di bawah kepemimpinan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan madrasah.
Kurikulum tersebut menempatkan nilai cinta, kemanusiaan, toleransi dan kedamaian sebagai bagian penting dalam proses pendidikan. Gagasan ini dinilai sejalan dengan kesadaran yang berkembang dalam forum ASEAN bahwa pendidikan agama yang benar sejak dini dapat menjadi investasi penting bagi terciptanya masyarakat yang harmonis.
Salah seorang delegasi Indonesia, Dr. H. Bunyamin M. Yapid, Lc., MH, menilai gagasan tersebut semakin mendapatkan penguatan setelah mendengarkan pandangan para peserta konferensi dari berbagai negara.
Menurutnya, konflik sosial maupun konflik yang lebih luas terkadang berawal dari pemahaman agama yang keliru atau tidak utuh. Karena itu, pendidikan agama harus diarahkan untuk melahirkan pemahaman yang moderat, damai dan mampu menghargai kehidupan bersama.
“Dari konferensi ini hampir semua pembicara menyampaikan bahwa untuk menciptakan kedamaian di tengah masyarakat dan sebuah negara, kita harus memberikan pemahaman agama yang benar kepada masyarakat. Dan itu harus dimulai sejak madrasah, sekolah maupun keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, pesan tersebut juga terlihat dalam pembahasan mengenai bagaimana pemahaman keagamaan yang keliru dapat berkembang menjadi persoalan sosial apabila tidak ditangani melalui pendidikan yang tepat.
Dalam sesi penutupan konferensi, isu mengenai pentingnya meluruskan pemahaman keagamaan juga menjadi perhatian. Pesan yang disampaikan para pembicara menegaskan bahwa agama semestinya menjadi sumber kedamaian, bukan justru menjadi alasan untuk membangun permusuhan dan konflik.
Bunyamin menilai, pengalaman dan pandangan dari negara-negara ASEAN tersebut semakin memperkuat pentingnya pendekatan pendidikan agama yang dikembangkan Kementerian Agama.
“Konsep yang diterapkan Prof. Nasaruddin Umar ini luar biasa. Kita berharap gagasan tersebut tidak hanya diterapkan di lingkungan Kementerian Agama atau madrasah, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah umum,” katanya.
Menurut dia, pendidikan agama dan kebangsaan perlu berjalan beriringan. Anak-anak sejak dini perlu mendapatkan pemahaman bahwa menjalankan agama dan mencintai bangsa bukanlah dua hal yang bertentangan.
Ia mencontohkan, pemahaman keagamaan yang keliru mengenai simbol-simbol kebangsaan, termasuk sikap terhadap bendera dan negara, perlu dihadapi dengan pendidikan dan dialog yang tepat.
“Jangan sampai ada pemahaman yang membuat anak-anak justru kehilangan rasa hormat terhadap simbol-simbol kebangsaan. Pendidikan agama harus memperkuat kecintaan kepada Tuhan, kepada sesama manusia sekaligus kepada bangsa dan negara,” tuturnya.
Karena itu, penerapan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dinilai dapat menjadi salah satu pendekatan strategis untuk membangun generasi yang memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus berkarakter damai, toleran dan memiliki rasa kebangsaan.
Pesan utama yang mengemuka dari konferensi tersebut pun menjadi semakin jelas: perdamaian tidak hanya dibangun setelah konflik terjadi, tetapi harus ditanamkan sejak anak-anak mulai mengenal agama, keluarga, sekolah dan kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan menjadi ruang paling awal untuk memastikan bahwa agama dipahami sebagai sumber kasih sayang, persaudaraan dan kedamaian, bukan sebagai sumber perpecahan.
-
Nasional1 tahun agoAndi Syakira Harumkan Nama Sidrap, Lolos ke Panggung Utama Dangdut Academy 7 Indosiar,Bupati SAR:Kita Support Penuh!
-
3 tahun agoInformasi Tidak Berimbang,Dewan Pengurus KKS Kairo Mesir Keluarkan Rilis Kronologi Kejadian di Mesir
-
Politics2 tahun agoIndo Barometer:Isrullah Ahmad -Usman Sadik Pepet Budiman-Akbar,IBAS-Puspa Tak Terkejar
-
2 tahun agoTangis Haru Warnai Pelepasan Status ASN Hj Puspawati Husler”Tetaplah Kuat Kami Bersamamu”
-
4 tahun agoVideo Menolak Berjabat Tangan Dengan Seorang Warga Viral ,Ketua DPRD Luwu Timur Dinilai Tidak Mencerminkan Diri Sebagai Wakil Rakyat
-
3 tahun agoPj Gubernur Bahtiar Paparkan Rencana Pembangunan Sulsel di Depan Presiden Jokowi
-
4 tahun agoDari Kotamobagu, BMR Anies Bertekat Menangkan Anies Baswedan*
-
2 tahun agoDuet Birokrat dan Legislatif, NasDem Usung Syahar-Kanaah di Pilkada Sidrap










You must be logged in to post a comment Login